Berisiko Tinggi, Petugas Damkar Tak Berasuransi

Berisiko Tinggi, Petugas Damkar Tak Berasuransi

- detikNews
Rabu, 10 Feb 2010 15:27 WIB
Berisiko Tinggi, Petugas Damkar Tak Berasuransi
Bandung - Risiko tinggi yang harus dihadapi oleh para petugas Dinas Pemadam Kebakaran tidak seimbang dengan proteksi atau asuransi jiwa yang disediakan. Saat ini petugas pemadam kebakaran hanya dicover oleh askes.

Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Prijo Soebiando usai Rapat Konsultasi Mekanisme Penganggaran Premi Asuransi Bagi Personil Damkar, di Hotel Preanger, Jalan Asia Afrika, Rabu (10/2/2010).

"Kita selama ini kalau ada kecelakaan pada saat kerja bayar langsung, tidak pakai askes, askes itu hanya kalau kita sakit. Kesehatan saja, bukan kecelakaan," ujar Prijo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, keinginan petugas pemadam kebakaran untuk mendapatkan asuransi terganjal Permendagri No 13 Tahun 2006 yang menyatakan tidak boleh ada asuransi selain askes bagi PNS di Indonesia.

"Dari aturan itu kan sekarang tidak boleh dobel, jadi minta ke dewan juga ditolak karena tidak ada anggaran untuk itu," ujarnya.

Sebelum ada peraturan tersebut, kata Prijo, pada tahun 2005 hingga 2007 petugas pemadam kebakaran di Kota Bandung mempunyai asuransi jiwa.

"Dulu ketika masih punya asuransi, setiap habis kebakaran besar, kita langsung rongent, kalau ada yang kecelakaan langsung dilayani di rumah sakit rujukan, mau dijahit atau diapain juga langsung ditanggapi cepat," ujarnya.

Disebutkan Prijo, selama tahun 2009 jumlah petugas Damkar yang mengalami kecelakaan sebanyak 22 orang.

"Tahun 2009 kecelakaan terberat masuk lumpur plastik panas, itu sampai satu minggu petugas kita menderita, lalu kaki melepuh terkena minyak panas, itu sering, dan biasanya pakai kocek sendiri," kata Prijo.

Untuk itu dirinya berharap pemerintah pusat dapat segera membuat aturan baru tentang pemberian asuransi kepada petuga pemadam kebakaran di seluruh Indonesia.

"Kita kan bertugas menantang maut, harusnya ada lah asuransi jiwa untuk kita. Tak hanya di Bandung, tapi semua butuh," kata Prijo.

(avi/tya)


Berita Terkait