"Hanya Rp 43 triliun, dan banyaknya masih untuk belanja seperti gaji prajurit," ujar mantan Danpussenkev Mayjen TNI Salim Mangga, Purn. yang kini menjadi anggota Komisi I DPR RI di sela-sela ulang tahun Korps Kavaleri ke-60, Selasa (9/2/2010).
Ia mengatakan terbatasnya anggaran militer karena kemampuan negara dalam memberi anggaran hanya sebatas jumlah tersebut. Padahal Indonesia memiliki wilayah yang luas dan rawan pencurian serta konflik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salim menambahkan banyaknya alutsista dan onderdil yang didatangkan dari luar negeri membuat anggaran militer membengkak. Namun karena minimnya dana, pengadaan alutsista yang canggih pun jadi terkendala.
"Produk yang digunakan kebanyakan masih dari luar," ungkapnya.
Selain berharap agar anggaran militer bisa ditambah, ia pun mengharapkan kemampuan produsen alutsista dalam negeri bisa ditingkatkan. Karena dengan penggunaan produk dalam negeri yang berkualitas, biaya pengadaan alutsista bisa ditekan. Hal ini menurutnya sangat memungkinkan bila melihat motivasi prajurit TNI yang dinilainya cukup tinggi.
"Motivasi ini bisa dilihat dari inovasi yang dilakukan walau dana yang ada terbatas," imbuhnya.
(tya/tya)











































