"Bisa dapet sampai lima ratus ribu," tutur Nia (20), mahasiswi sebuah universitas swasta, saat ditemui detikbandung di kawasan Dago, Sabtu (6/2/2010).
Nia bukan pertama kali mengamen. Terhitung 3 kegiatan di kampus yang dananya mengandalkan hasil mengamen di kawasan Dago. Berdasarkan pengalaman para seniornya, dengan usaha yang gila-gilaan, angka 700 ribu bisa masuk kantong. "Tapi aku sendiri belum dapet segitu," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mendapatkan uang banyak, harus dilakukan persiapan yang matang. Mereka bahkan menggelar rapat kecil menyusun strategi. Permasalahan yang dibahas biasanya seputar pembagian kelompok dan tempat mereka mengamen.
Satu rombongan himpunan mahasiswa atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bisa dibagi hingga 4 kelompok. "Satu kelompoknya bisa sampe belasan orang," ungkap Nia.
Hal yang mirip diungkapkan Rafli (18), mahasiswa sebuah universitas negeri di Kota Kembang. Ia mengatakan untuk sekali mengamen, dua hingga tiga puluh orang bisa menyemarakkan Dago. Dengan pembagian tempat mengamen, uang yang didapat pun bisa maksimal.
"Jadi dari tiap tempat ada pemasukan," selorohnya.
Biasanya, dengan dua hingga tiga kali mengamen, mereka sudah merasa cukup. karena uang dari hasil mengamen digunakan untuk membuayai kebutuhan yang mendesak. Sisa kebutuhan yang bisa ditangguhkan, mereka bisa menunggu bantuan dari pihak kampus maupun sponsor.
"Yang mendesak aja dulu seperti untuk biaya publikasi acara," ungkapnya.
(lom/lom)










































