Mereka bertumpuk di perempatan jalan, di bawah kolong Jalan Layang Pasupati, hingga di pembatas jalur jalan. Menjajakan lagu demi mengharap rupiah alias pengamen. Namun bukan desakan ekonomi yang memaksa mereka turun ke jalan, sebab mereka adalah mahasiswa, generasi muda yang sedang mengecap pendidikan tinggi di Kota Bandung.
Shita (18) salah satunya, ia dan belasan teman sejurusannya turun ke perempatan Dago-Surapati pada Sabtu (6/2/2010). Mahasiswi sebuah sekolah tinggi swasta ini mengaku baru pertama kali mengamen di tempat tersebut. "Baru pertama kali sih, tapi emang udah direncanain," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sambil nyari duit, sambil seru-seruan," ungkap pemuda asal Bogor ini.
Mereka adalah kaum terdidik di sebuah kota yang memiliki banyak perguruan tinggi berkualitas. Lalu mengapa mereka memilih mengamen untuk mendapatkan uang?
"Abisnya gampang dan cepet," ujar Shita.
"Gampang dan enak, soalnya bisa sambil nongkrong," balas Rafli.
Jika dibandingkan dengan cara mendapatkan uang dari cara lain, metode ini memang lebih mudah dan cepat. Tinggal menunggu ada kendaraan berhenti, bernyanyi sambil menyodorkan kardus, dengan sedikit persuasi bahkan paksaan, rupiah bisa mengucur.
Tanpa harus membuat surat izin apa pun kepada siapa pun, mengamen bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tapi dengan pertimbangan malam Minggu adalah malam yang ramai, di Jalan Dago yang ramai pula, saat itu lah mereka berbondong-bondong turun ke jalan.
"Kalau malam sama jalan lain mah kurang rame," imbuh Rafli.
Sehingga Jalan Dago yang seolah ditakdirkan untuk macet dengan segala kesibukan dan dinamikanya, jadi lebih semarak di malam Minggu dengan kehadiran mereka.
(lom/lom)











































