Kamera SLR Hanya Aksesori

Sudut Bandung: Juru Foto Keliling

Kamera SLR Hanya Aksesori

Tendi Mahadi - detikNews
Kamis, 04 Feb 2010 14:28 WIB
Kamera SLR Hanya Aksesori
Bandung -

Kamera Single Lens Reflex (SLR) film yang menggantung di leher Sutisna (50) selalu setia menemani langkahnya. Kamera Canon tua itu ikut bergoyang seiring langkahnya dan ikut berhenti saat sang empunya diam. Tapi ternyata, sang Canon uzur bukanlah "senjata" yang digunakan untuk membidik target fotonya.

Itu hanyalah aksesori. Ia menggunakan sebuah kamera digital pocket untuk memotret konsumennya. Kamera digital ini selalu tersimpan di tas selempangnya.
 
"Gak mungkin lagi kalau pake kamera film," ungkap Sutisna.

Ia beralasan, penggunaan kamera film membutuhkan waktu yang lama. Sementara dirinya tak mau membuat konsumen menunggu. Untuk mengerjakan satu proyek foto, Sutisna membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Kalau masih memakai film, minimal waktu yang dibutuhkan adalah setengah jam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proses pembuatan foto pun ternyata menggunakan jasa percetakan foto digital yang ada di sekitar Alun-alun Bandung, Jalan Asia Afrika. Bila mendapat konsumen, Sutisna bergegas lari ke percetakan foto dan kembali secepat kilat.

"Begitu kerja sekarang mah," tuturnya.

Akhirnya SLR yang menggantung di lehernya hanya menjadi aksesori. Juga sebagai tanda juru foto keliling. Sutisna mengaku, kamera SLR itu hanya digunakan hingga tahun 2000. Saat itu pula kamera digital semakin menguasai pasar. Tak mau ketinggalan, ia pun membeli kamera pocket digital dengan tabungannya sendiri.

"Ya biar kelihatan saja sebagai fotografer," ujarnya.
 
Namun bukan berarti si Canon benar-benar pensiun. Sutisna mengungkapkan, sesekali alat itu digunakan untuk memfoto pada momen-momen yang lebih 'santai'. Misalnya pada acara pernikahan atau wisuda yang menurutnya tidak terlalu dikejar waktu seperti memotret spontan jika menemukan pelanggan.

"Waktunya kan bisa lebih lama," ungkapnya.

Serupa pula dilakukan tukang foto keliling lainnya yaitu Sanip. Pria berusia 50 tahunan ini beralasan pindah ke kamera digital karena penyedia jasa percetakan film yang makin berkurang. Saat kamera film makin ditinggalkan, kata Sanip, jasa percetakan film pun ikut menyusut. Sehingga ia kesulitan melayani pelanggan yang didapat secara spontan.
 
"Wah gak bakal kekejar," ujar Sanip.
 
Walau sudah sangat jarang digunakan, ternyata kamera SLR tua yang mereka bawa tetap berguna. Paling tidak untuk menemukan keberadaanya di tengah keramian seperti di Alun-alun Kota Bandung.

(bbp/bbp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads