"Apa aja bisa," kenangnya.
Namun ia tak memilih profesi lain. Sutisna tak berminat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) seperti yang banyak diincar saat ini. Alasan yang ia gunakan adalah faktor gaji yang menurutnya terlalu kecil saat itu. Ia lebih mengidamkan menjadi seorang wiraswasta dengan harapan pemasukan yang bisa lebih besar.
"Gaji PNS dulu gak seberapa, padahal jadi guru tinggal minta," ujarnya.
Hal senada diungkapkan teman seprofesinya, seorang pria berpenampilan lusuh. Ia memperkenalkan dirinya Sanip. Sama seperti Sutisna, ia pun lulusan SD dengan cita-cita berusaha swasta dengan tukang foto keliling sebagai jalan hidupnya.
"Dulu nggak kepikiranlah jadi PNS," tutur Sanip.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka akhirnya melatih kemampuannya menjadi seorang juru foto keliling. Ia beralasan, uang yang dapat diperoleh dari hasil jepretan kamera lebih menjanjikan.
"Kerjaan seperti ini masih dibutuhkan banyak orang. Terutama orang-orang yang datang ke lokasi rekreasi di Kota Bandung. Orang masih senang mengabadikan fotonya. Saya pun senang menjepretnya," ungkap Sanip.
Sanip dan Sutisna tak menampik bila saat ini kamera makin murah dan mudah digunakan. Soal konsumen pun, kata dia, jelas berkurang. Hampir setiap orang yang datang membawa kamera dan bisa mengabadikan momen mereka sendiri.
"Berkurangnya sangat jauh dibanding dulu," timpal Sanip.
Namun, mereka sepertinya akan terus berprofesi menjadi juru foto keliling. Menawarkan orang-orang untuk difoto dengan latar belakang Masjid Raya Jabar demi rupiah. Ia mengakui tak memiliki kemampuan lain yang bisa diandalkan sementara persaingan kerja semakin ketat.
"Lulusan SMA saja susah kerja, apa lagi SD seperti saya," keluh Sutisna diamini rekan itu.
(bbp/tya)











































