Terik matahari seolah hanya menyinari Alun-alun Kota Bandung yang diapit Jalan Asia Afrika dan Jalan Dalem Kaum. Masih di lokasi sama, para pedagang kaki lima memanggil pejalan kaki untuk membeli dagangannya. Suasana pun terlihat ramai.
Di antara keriuhan, seorang pria paruh baya berdiri menatap pejalan kaki yang lalu lalang. Ya, siang itu di taman alun-alun atau tepatnya di halaman Masjid Raya. Pria berkemeja hijau dan bertopi coklat melindunginya dari sengatan matahari. Menara kembar di lokasi yang tampak kokoh menjulang, seolah menjadi 'payung'.
Sambil melangkah, dia menenteng tas selempang. Sementara tangan kirinya memegang lembaran foto orang-orang yang sesungguhnya (mungkin) tidak dikenal. Sebuah kamera SLR tua menggantung di leher, mudah ditebak kalau ia seorang fotografer keliling.
Sutisna namanya. Ia berusia 50 tahun. Ekspresi wajahnya kurang menyenangkan siang itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutisna memilih duduk di bangku taman yang dilindungi pohon kecil untuk beristirahat sejenak. Puluhan, bahkan ratusan orang yang melintas di alun-alun, belum juga memanfaatkan jasanya. Penantian berjam-jam, lembaran rupiah pun tak mengalir ke dompetnya.
"Belum dapat apa-apa ini," imbuhnya.
Sutisna mengatakan, jumlah penjaja layanan foto keliling di alun-alun ada 10 orang, termasuk dirinya. Tapi, mereka sedang pulang ke kampung halaman karena urusan masing-masing. Kebanyakannya berasal dari Garut, Jawa Barat.
"Kalau saya sendiri asli Bandung," ujarnya.
Setiap jepret kameranya, ia hargai Rp 15 ribu untuk ukuran 5R. Sedangkan ukuran dua kali lipatnya, Sutisna memasang tarif Rp 25 ribu. Uang yang diperoleh, disebutnya terkadang pas-pasan dalam membiayai kebutuhan sehari-hari serta menyekolahkan dua anaknya. Ia mengaku, dua anaknya itu masih duduk di bangku SD dan SMP.
"Untung sekolah sekarang gratis, walau untuk buku masih beli," ungkapnya.
Ia mengaku sudah lama berprofesi sebagai fotografer keliling. Itu dimulai sejak 1974, sama dengan kebanyakan teman seprofesinya. Dia bercerita, dulu kamera ialah barang yang jarang dan mahal. Maka itu, tuturnya, kerjaan foto keliling begitu laris.
"Sudah lama sekali kami usaha di sini," sambungnya.
Kumandang azan zuhur terdengar dari Masjid Raya Jabar saat langit mulai menghitam. Ia kembali berdiri dengan langkah gontai, seolah tanpa tujuan jelas. Namun Sutisna masih belum menemukan orang yang mau menggunakan jasanya.
(bbp/bbp)











































