Sekitar 300 orang dari Front Perjuangan Rakyat (FPR) yang merupakan organisasi gabungan mahasiswa, petani dan korban gempa Pangalengan melakukan aksi unjuk rasa di depan halaman Gedung Sate, Kamis (28/1/2010). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan mereka atas kinerja 100 hari SBY-Boediono yang dinilai gagal.
Menurut Humas FPR Amran pemerintahan yang dijalankan SBY-Boediono tidak pro rakyat.
"Sebagai contoh, dari sektor buruh, dimana pemerintah memberlakukan AC-FTA yang berimbas pada buruh. Kesejahteraan petani yang hidupnya masih kurang layak, juga pendidikan yang amat mahal," ujarnya saat ditemui di sela-sela aksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Simbol Budi Anduk merupakan kekecewaan dan amarah kami sebagai aktivis kepada Boediono. Ini ekspresi kami, kan hampir sama namanya Boediono dan Budi Anduk, ini candaan kami saja," jelas Amran.
Hingga saat ini demonstran masih melakukan orasi. Massa terdiri berbagai kalangan, mahasasiswa, bapak-bapak, ibu-ibu hingga anak-anak. Dalam aksinya mereka juga membawa sejumlah poster dan spanduk, salah satunya bertuliskan 'SBY-Boediono rezim anti rakyat boneka Amerika'
Aksi ini dijaga oleh seribuan aparat kepolisian. (tya/lom)











































