Hal ini dituturkan oleh Pakar Matematika ITB Iwan Pranoto ketika ditemui di sela-sela Seminar 'Assesment Matematika dan UN' di SMA 12 Bandung Rabu (20/1/2010).
"Yang salah dari UN itu soalnya, bukan penyelengaraannya. Membuat soal UN itu tidak mudah. Apalagi formatnya dibuat dengan pilihan ganda untuk siswa di 33 propinsi, tidak bisa sembarangan," tutur Iwan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pengetahuan ya jelas, seperti aljabar, aritmatika dan semacamnya. Skill itu semisal bernalar dan berkomunikasi. Lebih ke action jadinya. Sedangkan attitude disini maksudnya adalah bagaimana siswa bisa menyukai mata pelajaran yang diujikan. Semisal disini matematika, banyak yang lulus UN dengan nilai matematika memuaskan. Tapi ternyata dia tidak mau lagi berhadapan dengan matematika," jelas Iwan.
"Ke depan, seharusnya para pembuat soal UN bisa mengubah soal-soal yang dibuat, menjadi tidak hanya menitikberatkan pada knowledge saja. Tapi juga dua aspek tadi," imbuhnya.
Menurut Iwan, standar soal ujian yang baik telah diatur dalam Programme for International Student Assesment (PISA) yang dikeluarkan oleh Organization for Economic Comunity Development.
"Lembaga dunia ini mengukur seberapa siap anak umur 15 tahun (kelas 3 SMU) untuk menjalani kehidupan di abad ke 21. Dan jangan salah, Indonesia telah menyetujui PISA ini, tapi parahnya tidak diterapkan," ujar Iwan kesal.
Ditambahkannya, proses perubahan bentuk soal UN ini tidak akan terjadi secara instan. "Semua itu ada prosesnya. Setidaknya satu dari dua aspek yang sepatutnya ada dalam soal-soal UN bisa diimplementasikan dulu. Baru menyusul aspek lainnya," tandas Iwan.
(dip/lom)










































