Tak Semuanya Ingin Pulang

11 Korban Trafficking Dipulangkan

Tak Semuanya Ingin Pulang

- detikNews
Rabu, 20 Jan 2010 14:26 WIB
Tak Semuanya Ingin Pulang
Bandung - Kantor PKK Provinsi Jawa Barat di Jalan Soekarno-Hatta 468 Bandung menjadi tempat curhat para korban trafficking, Selasa (20/1). Setelah pulang dengan selamat dari Pontianak, mereka mengadukan perasaan kepada pendamping. Alasan ekonomi masih menjadi penyebab utama kenekatan mereka hingga terjerat di bisnis ilegal ini.

"Sejak dua minggu setelah lebaran, saya tak pernah dinafkahi lagi suami," keluh Ayu Soraya, korban asal kabupaten Bandung tantang alasannya tergiur menjadi seorang TKI. Suaminya pergi meninggalkan ia bersama dua balita mereka. Sejak itu ia bertekad mencari kerja lagi untuk membiayai kedua anaknya.

Tekad ayu disambut baik dua orang kenalannya yang merupakan agen TKI ke Arab Saudi. Namun pemeriksaan fisik di Jakarta menyatakan kondisi paru-parunya tidak memenuhi syarat yang diajukan. Selama sekitar tiga bulan ia menjelajahi Jakarta untuk mendapatkan sesuap nasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat menunggu harapan muncul, ia bertemu dengan orang yang memperkenalkan dirinya sebagai Husni. Ia menawarkannya menjadi TKI ke Malaysia, Ayu langsung menerima tawaran itu tanpa rasa curiga sedikitpun.

"Namanya juga lagi butuh uang, apa lagi ia menjamin bahwa keluarga saya akan terus dibiayai," ujarnya.

Ayu dikumpulkan di Parung Panjang, Tangerang, bersama beberapa korban lain yang tidak dikenalnya. Kecurigaan mulai muncul saat ia dilarang menggunakan handphone, bahkan barang elektronik tersebut dirampas dari tangannya. Akhirnya ia dan sembilan rekannya diterbangkan ke Pontianak, tanpa pelatihan, paspor, dan kebutuhan lainnya.

"Nanti kalau di bandara ada yang manggil, ikut dia," cerita Ayu menirukan ucapan Husni sebelum terbang ke Kalimantan.

Saat masuk penampungan di Jalan Selat Madura, Pontianak, di sana sudah ada puluhan korban perempuan yang lebih dulu ada. Ia tidak tahu jumlah pastinya, namun lebih dari dua puluh adalah jumlah yang ia anggap tepat. Di sana ia bersama korban lain hanya makan nasi dan garam serta minum dari hasil menadah air hujan. Bahkan untuk mandi, mereka terpaksa menggunakan air sungai yang telah tercemar limbah.

Didera rasa khawatir, setelah beberapa hari ia berembuk bersama empat temannya untuk melarikan diri. Saat keadaan dirasa cukup aman, mereka berlima segera keluar rumah penampungan dan melapor ke Polda Kalimantan Timur. Jajaran kepolisian langsung mendatangi lokasi dan mengamankan para korban. Setelah ada koordinasi antara pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dengan Jawa Barat, ia bisa dipulangkan ke tempat asal.

Pendampingan, pemeriksaan, dan Penyuluhan adalah kegiatannya saat ini. Namun sepertinya tak akan bertahan lama, sebab ia sudah punya rencana mencari kerja ke ibu kota demi membiayai kedua anaknya.

"Tadinya saya minta ditinggal di Jakarta saja, tapi tidak boleh. Padahal kalau nanti saya ke Jakarta kan harus ngeluarin ongkos lagi," ujarnya sambil tersenyum.
(lom/lom)


Berita Terkait