Suara Puing-puing Pasar Ujung Berung

Suara Puing-puing Pasar Ujung Berung

- detikNews
Senin, 18 Jan 2010 17:05 WIB
Suara Puing-puing Pasar Ujung Berung
Bandung - Asap masih mengepul di tengah bangunan Pasar Ujung Berung yang telah menjadi puing (18/1/2010). Namun puluhan pedagang dan kerabat sudah membongkar reruntuhan di sisa kios mereka. Satu di antara mereka adalah Nining Yuningsih (52) yang mengais sisa kios kelontong dan sayurnya. Wanita asli Ujung Berung ini terus mencari barang berharga yang selamat. Lebih dari itu, ia juga mencari kejelasan dari kelangsungan usahanya. Padahal setiap bulannya ia bisa mengantongi keuntungan sebesar tiga juta rupiah.
Β Β Β 
Kebingungan Nining semakin menjadi, karena sebenarnya 5 bulan lagi ia akan menikahkan anak bungsunya. Kini rencana bahagia itu tak jelas nasibnya. Selain untuk memikirkan makan esok lusa, rasa sedih dan kecewa juga menodai mimpi indah anaknya. Kerudung coklat yang ia kenakan melindungi rambut dan kepalanya dari abu sisa kebakaran yang beterbangan, namun tak bisa menutupi kebingungan dan kekhawatiran yang tersirat dari raut mukanya.

"Saya tidak tahu bagaimana nasib rencana perkawinan anak saya, mungkin akan tertunda," keluhnya sambil menghela nafas. Ia pantas merasa risau saat uang tabungan harus didahulukan ke mana, modal usaha atau tetap untuk anaknya.

Kebakaran yang menimpa kiosnya bukan kali ini saja dialami. Pada 1976, tahun pertama ia berusaha di pasar ini, merupakan musibah kebakaran pertama yang menimpanya. Memang pasar ini beberapa kali terbakar, namun hanya kecil dan tak menyentuh kiosnya. Kini pengalaman 34 tahun lalu itu kembali menimpa dirinya, saat "Si Jago Merah" kembali berkunjung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, cicilan kredit ke sebuah bank nasional pun masih harus dilunasi. Hal ini semakin membebani perasaan Nining, seperti tubuhnya yang tak kuat lagi mencari barang-barang yang dianggap berharga. Ia meneruskan harinya dengan berbincang dengan tetangga kiosnya, seorang penjual kelapa bernama Oom Heruman (37).

Oom sehari-harinya menjual kelapa yang ia peroleh dari Kota Tasik. Namun hari ini yang ada di dalam kiosnya hanyalah buah kelapa gosong dan sampah sisa kebakaran yang menumpuk. Sama seperti Nining, kebingungan adalah hal yang ada dalam pikirannya. Bila Nining bingung akan menikahkan anaknya, Oom bingung menyekolahkan anaknya karena ia pun membutuhkan modal untuk memulai kembali usahanya.

Perbincangan mereka menemukan beberapa kesamaan lain selain kebingungan, yaitu mencari dana untuk bangkit. Selain membongkar tabungan, pengertian dan belas kasih keluarga adalah harapan mereka. Namun bila masih tidak cukup, pilihan terakhir harus mereka ambil. Pilihan buruk namun realistis, rentenir. Mereka sadar bahwa meminjam ke rentenir adalah pilihan yang berbahaya, namun dengan kebingungan dan keharusan untuk segera mendapatkan dana, seakan menutup mata mereka.

Lalu kenapa mereka tak meminta dan menunggu bantuan pemerintah? Mereka bukannya tidak memikirkan hal itu, tapi mereka seakan tahu bahwa hal itu memakan waktu lama. Sedangkan mereka membutuhkan dana kecepat mungkin.

Kalau menunggu pemerintah, dalam tiga hari saja belum tentu ada, lha saya mau makan apa?" ujar Oom.

Keraguan terhadap bantuan pemerintah pun merayap pada usaha membangun kembali tempat usaha mereka. Saat siang menjelang, kabar dari pertemuan antara wakil pedagang dan pemerintah telah mereka dengar. Isinya, pedagang diperbolehkan berdagang sementara di Alun-alun Ujungberung atau ke pasar manapun sambil menunggu pemerintah membangun kembali pasar yang sekarang.

Namun mereka bersepakat untuk menolaknya, langkah yang mereka klaim sama dengan pemikiran pedagang lain. Alasannya adalah, bila harus pidah ke Alun-alun, akan rebutan dan menimbulkan keributan. Berbeda dengan di kios seperti sekarang yang telah memiliki tempat dan haknya masing-masing. Masalah pun akan menyeret pada kesulitan pelanggan setia untuk menemukan mereka. Risiko kehilangan pelanggan tentu mereka takuti. Maka mereka akan membangun kembali kios mereka masing-masing dengan dana yang mereka usahakan sendiri.

Kebingunan dan ketakutan memang tak boleh mereka pelihara lama-lama. Maka saat matahari kian meninggi, mereka kembali berdiri dan meneruskan pekerjaan bersih-bersih. Karena hari esok pekerjaan lebih berat sudah menanti.

(lom/lom)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads