"Satu jam sebelum meninggal, Heri berkata kepada saya dan keluarga. Ia berucap sudah tak sanggup hidup lagi. Bahkan Heri ngomomg akan meninggal," jelas ayah Heri yaitu Nana Supriatna (47) saat dihubungi detikbandung via ponsel, Sabtu (16/1/2010).
Mendengar ucapan tersebut, keluarga terkejut. "Saya jawab, 'jangan dong'. Namun setelah itu, Heri hanya diam dan tak bicara. Hingga akhirnya meninggal," sambung Nana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Heri menghembuskan nafas terakhir di RSHS Bandung pada Jumat (15/1/2010), sekitar pukul 17.00 WIB. Pagi ini, Heri akan dimakamkan di TPU Nagrok, Ujungberung, Kota Bandung.
"Saya dan keluarga sudah ikhlas menerima kejadian ini. Selama beberapa hari dirawat, pihak RSHS sudah melayani dengan baik," ujar Nana.
Tumor ganas mulai menyerang Heri saat usia 18 tahun. Orangtuanya menduga, hal itu dipicu oleh kejadian di masa kecil Heri. Saat usianya 3 tahun, di mana kening kanannya terbentur pintu rumah dan menimbulkan benjolan sebesar jerawat.
Heri lumpuh setelah mendapat perawatan sinar ultraviolet sebanyak 9 kali untuk menyembuhkan tumor ganas di bagian kening sebelah kanannya. Kondisinya terus melemah. Saat dibawa kembali ke RSHS pada akhir Desember lalu, RSHS malah memberikan surat rujukan balik ke RSUD Cicalengka, dengan alasan Heri bisa dirawat di sana.
Akhirnya, pada Rabu (13/1/2010), Heri bisa dirawat di RSHS. Namun takdir berkata lain. Pada Jumat (15/1/2010), Heri hembuskan nafas terakhir di hadapan keluarganya.
(bbp/bbp)











































