Sidak pertama digelar pada Desember lalu. "Kita akan lakukan sidak hingga tiga kali. Untuk yang ketiga akan kita lakukan akhir Januari nanti," ujar Ali Negara, Staf Unit Sertifikasi Layanan Konsumen BBPOM Bandung, saat sidak di SD Astana Anyar 2, Jalan Lio Genteng.
Menurut Ali sidak makanan difokuskan pada jajanan yang dicurigai mengandung boraks, formalin, serta rodamin yaitu zat pewarna tekstil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampel-sampel jajanan yang diujikan sebenarnya sudah diuji pada sidak pertama, kenapa kita uji lagi untuk mengetahui apakah makanan itu masih dijual dengan menggunakan bahan berbahaya atau tidak," jelas Ali.
Menurutnya bagi pedagang yang menjual jajanan dengan bahan berbahaya akan dikenai sanksi. Kalau pada sidak pertama makanan yang dijual terbukti mengandung bahan berbahaya, maka si penjual akan ditegur.
"Lalu pada sidak pertama tetap memakai bahan berbahaya, kita akan musnahkan jajanan itu. Kalau sampai sidak ketiga kali nanti, masih tetap bandel, kita akan laporkan ke Dinkes Bandung," ujar Ali.
Dari beberapa sampel jajanan di SD astana anyar, dua sampel jajanan yaitu tahu dan sirup tak mengandung bahan bahaya lagi. Setelah diuji sekitar 30 menit, tidak ada kandungan berbahaya. "Sidak pertama kami sudah berhasil," kata Ali.
Salah seorang pedagang sirop merah Dede Sugandi (45), mengaku sudah dua kali diambil sampel. "Desember lalu, saya tidak bermasalah. Sekarang juda sama. Saya pakai bahan yang aman, air juga pakai air isi ulang," tutur Dede. (dip/ern)











































