"Tadinya meski terbaring masih bisa dipindah menghadap ke kiri atau kanan. Tapi sudah dua hari ini kalau dipindah posisi, anak saya mengerang kesakitan," tutur sang ayah Nana Supriatna (46) ketika dihubungi detikbandung melalui telepon Minggu (10/1/2010).
Menurut Nana, dipindahkannya posisi tidur Heri bertujuan untuk mencegah timbulnya bolong pada tubuh anak ke 3 dari 6 bersaudara ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat kondisi anaknya, Nana tidak mampu berbuat banyak. "Ya kalau digeser sakit ya mau bagaimana lagi. Saya dan ibunya hanya bisa berdo'a yang terbaik untuk Heri," tutur Nana.
Tumor ganas mulai menyerang Heri pada saat usianya 18 tahun. Orangtuanya menduga, hal itu dipicu oleh kejadian di masa kecil Heri, saat usianya 3 tahun, di mana kening kanannya terbentur pintu rumah dan menimbulkan benjolan sebesar jerawat yang hilang dua minggu kemudian.
Heri mengalami empat kali operasi di RSHS. Setelah operasi keempat, dokter meminta Heri untuk menjalani perawatan penyinaran ultraviolet setiap hari sebanyak 26 kali, agar tumornya tak kembali tumbuh.
Namun setelah lima kali penyinaran, Heri mengeluh kakinya sering kesemutan. Pada penyinaran ketujuh, kakinya sudah susah digerakkan dan setelah penyinaran kesembilan, Heri mengalami lumpuh. Keluarga pun curiga ada kesalahan tindakan medis.
Karena kondisinya makin parah, akhir Desember 2009 lalu, Heri dibawa ke RSHS lagi. Namun pihak RSHS malah merujuk kembali Heri ke RS Cicalengka.
Pihak RSHS sendiri menyatakan rujukan balik ke RS Cicalengka itu karena dinilai Heri bisa dirawat di RS daerah.
(dip/dip)











































