Hal ini dituturkan oleh Gede Suantika, Kasubbid Pengamatan Gempa Bumi Badan Geologi ketika ditemui di ruang kerjanya Jl Diponegoro Jumat (8/1/2009).
Menurut Wawan, di tahun 2010 ini ada beberapa titik rawan gempa di Jabar yang patut diwaspadai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, sampai saat ini Gempa menjadi satu-satunya musibah yang tidak bisa diprediksi kapan awal dan akhirnya.
"Tidak bisa diprediksi sampai kapan. Berbeda dengan longsor yang turut dipengaruhi musim hujan," imbuh Gede.
Meski tidak bisa diprediksi, Badan Geologi akan terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghindari bencana ini.
"Kita sudah memasang alarm tsunami sejak 2007 hingga 2009 yang dinamai Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS). Di beberapa pantai seperti Pangandaran dan Pelabuhan Ratu. Jadi misalnya ada indikasi Tsunami dari bawah laut, petugas akan menerima sensor," kata Gede.
Nantinya petugas akan menginformasikan bahwa ada indikasi tsunami, dan warga bisa siaga lebih cepat," papar Gede.
Namun begitu, untuk gempa bumi, kata Gede, sampai sekarang masih belum bisa diberikan warning. "Masih sangat sulit untuk memberikan warning dengan alarm untuk gempa bumi. Karena fenomena alamnya tidak bisa dideteksi," ujarnya.
Menurut Gede, antisipasi untuk gempa bumi bisa dilakukan dengan membuat desain bangunan tahan gempa.
"Dalam waktu seratus tahun ada ukuran percepatan gravitasi maksimum. Di Jabar di Cianjur Selatan itu sampai 0,16 G. Seratus tahun kedepan maksimum bisa mencapai 0,3 G Jadi bangunannya harus bisa menahan 0,35 G yang bisa diukur dengan alat shaking table," tandas Gede.
(dip/avi)











































