"Untuk mendapatkan kecepatan yang tinggi tak mungkin jalurnya belok-belok. Pasti akan ada banyak jalur yang menembus pegunungan," ujar Pakar Transportasi ITB Ofyar Z Tamin saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Gedung Rektorat ITB, Jalan Tamansari, Kamis (7/1/2010).
Lebih lanjut Ofyar menyarankan, pemerintah sebaiknya mengkaji kembali rencana proyek kereta supercepat. Apakah sesuai kebutuhan atau tidak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
15 perusahaan asing membentuk konsorsium dan menandatangani MoA proyek kereta api supercepat yang dinamai Hydrogen Hi-Speed Rail Super Highway (H2RSH) senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 30 triliun. Kereta supercepat ini akan mengalahkan kecepatan dan kecanggihan shinkansen, bullet train dari Jepang, maupun kereta supercepat di Paris, Prancis.
Rencananya proyek ini akan memasuki FS pada 11 Januari nanti dan memakan waktu 90 hari. Ditargetkan mega proyek ini akan selesai selama 2 tahun.
(avi/ern)











































