"Pas datang lagi ke RSHS, malah ditolak. Kata dokter di RSHS, kamarnya penuh, jadi kami diminta membawa Heri pulang untuk dirawat di RS lain. RS mana? Kalau RS swasta kami kan tidak mampu bayar," ujar Nana Supriatna (46), bapak Heri, saat ditemui di rumah menantunya di Jalan Majalaya No 18 RT 04 RW 02 Antapani, Kamis (7/1/2010).
Setelah mendapat penyinaran ultraviolet untuk pengobatan tumor ganasnya lima bulan lalu di RSHS, Heri lumpuh. Dia hanya bisa terbaring di kasur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat datang dibawa ke bagian onkologi lalu dibawa ke UGD dan menginap semalam. Lalu besoknya, RSHS malah mengeluarkan rujukan agar anak saya dibawa kembali ke RS Cicalengka atau RS lainnya untuk perawatan," tutur Nana.
Menurut pihak RSHS, saat itu tidak ada kamar di RSHS. Dalam surat rujukan itu, kata Nana, disebutkan jika Heri harus mendapat transfusi darah.
"Yang saya tahu kan di RS Cicalengka enggak bisa transfusi darah, jadi saya harus bawa anak saya kemana? RSHS tidak berikan kejelasan. Ya sudah saya bawa lagi anak saya ke rumah," ujar Nana.
Nana mengaku menyesalkan sikap RSHS, yang menurutnya terkesan cuci tangan. Selama ini Heri dioperasi di RSHS dan mendapat penyinaran hingga membuat Heri lumpuh pun dilakukan di RSHS.
"Kata dokternya bilang, ya sudah lah pak, harus terima ini sebagai takdir. Bukan saya tak terima takdir, saya cuma tidak mau pihak RSHS dingin dan cuci tangan," tandasnya.
Tumor ganas mulai menyerang Heri pada saat usianya 18 tahun. Orangtuanya menduga, hal itu dipicu oleh kejadian di masa kecil Heri, saat usianya 3 tahun, di mana kening kanannya terbentur pintu rumah dan menimbulkan benjolan sebesar jerawat yang hilang dua minggu kemudian.
Heri mengalami empat kali operasi di RSHS. Setelah operasi keempat, dokter meminta Heri untuk menjalani perawatan penyinaran ultraviolet setiap hari sebanyak 26 kali, agar tumornya tak kembali tumbuh.
Namun setelah lima kali penyinaran, Heri mengeluh kakinya sering kesemutan. Pada penyinaran ketujuh, kakinya sudah susah digerakkan dan setelah penyinaran kesembilan, Heri mengalami lumpuh.
(ern/ern)











































