Dalam aksinya nanti, mereka berencana menyerukan penolakan terhadap pemberlakuan Asean China Free Trading Agreement (ACFTA).
"ACFTA yang ditandatangani 6 negara termasuk Indonesia sudah mulai berlaku 1 Januari kemarin. Kita tidak bisa diam begitu saja menyikapi hal ini," kata Roy Jinto selaku perwakilan dari SPSI Jabar pada konferensi pers di DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Jabar, Jl Lodaya 40, Senin (4/1/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Jabar industri tekstil banyak sekali. Tentu mereka akan kena imbasnya jika produk Cina masuk. Dengan kualitas yang sama harganya jauh lebih murah," ujarnya.
Menurut Roy, penyebab mahalnya harga tekstil lokal bukan karena tingginya upah buruh. "Yang membuat mahal itu pungli. Cost pungli dari satu perusahaan bisa sampai 30 persen. Sedangkan cost pegawai hanya 7 persen saja," ujarnya.
Menurut Roy, alasan aksi digelar di depan Gedung Sate adalah karena Gubernur Jabar juga harus berperan aktif dalam penolakan pelaksanaan ACFTA.
"Kalaupun tidak bisa menolak, hendaknya bisa meminta penangguhan
pelaksanaan ACFTA. Setidaknya sampai Indonesia benar-benar siap
menghadapi ini," tandas Roy.
(dip/avi)










































