Tragedi tsunami yang menerpa Aceh tidak dilukiskan Nia dengan bentuk visual, porak porandanya bangunan rumah dan orang-orang yang menderita. Pelukis berciri khas fashion drawing ini membuat sentuhan berbeda.
"Saya melukis obyek wanita yang menggunakan busana hasil imajinasi. Busana itu bermotif lengkungan-lengkungan yang diibaratkan seperti ombak," jelas Nia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejumlah orang awalnya menilai kalau lukisan mengenai tsunami ini dilihat langsung oleh saya. Padahal, saya tidak ke Aceh. Itu ialah hasil rekaman imajinasi saat melihat visual tayangan di televisi kala terjadinya tsunami," ujar Nia.
Penggalan kisah menarik tersebut, menjadi pengalaman tak terlupakan bagi ibu satu anak ini. Selama menekuni bidang seni lukis, sudah seratusan lebih buah karya hasil tangannya. Bahkan beberapa di antaranya sudah terjual.
Nia mengaku sejak usia dini sudah gemar menggambar. Bakat ini pun diakui Nia karena kedua orangtuanya juga seniman lukis. "Kalau saya sudah melukis dan menggambar saat usia lima tahun. Bakat yang saya miliki ini menetes dari kedua orangtua," ucap Nia.
Sang Suami Setia Memotivasi
Sementara itu, suami Nia yaitu Syaeful Hidayat Ahmad, begitu setia mendukung perjalanan hidup Nia. Di saat Nia mesti menderita stroke ringan, Syaeful tetap memberikan motivasi.
"Hampir setiap hari istri saya berkarya melukis. Ini kan juga sekaligus melatih memorinya hingga saat ini," ujar Syaeful.
Syaeful yang bekerja sebagai PNS di Jabar ini tetap berupaya terbaik untuk menyemangati Nia. "Saya tetap dukung aktivitas istri dalam melukis. Namun, saya tetap memantau kondisi kesehatannya juga. Ya, jangan terlalu capai lah," ungkap Syaeful.
(bbp/ern)











































