Pertunjukan dibagi dua area, indoor dan outdoor Sasana Budaya Ganesa. Gelaran ini sepertinya ingin menampilkan musik jazz dalam nuansa berbeda. Musik jazz yang bertaste world musik atau mungkin sebaliknya, world musik bernuansa jazz. Maka disebutlah genre world jazz.
Dengan mengusung tema 'a Voice of The New World' menampilkan kekhasan tradisi bermusik sekitar 50 kelompok musik. Di antaranya datang dari beberapa negara, Pigalle dari Perancis, Taal Tantra dari India, dan tentunya musisi asal Indonesia yang berkiprah di dunia, Nita Aarsten, Sono Seni Ensemble, Karinding Collaborative Project, dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara musisi jazz Indonesia, bagi kurator Bandung World Jazz Festival Djaelani, memiliki kekhasan tersendiri karena banyak memadukan jazz dengan musik tradisi. Menurutnya mereka memandang instrumen tidak hanya sebagai objek tapi juga subjek.
"Perpaduan itu sebagai bentuk kreativitas dalam musik jazz," tutur Djaelani saat ditemui di sela-sela hari pertama Bandung Wold Jazz Festival. Pemahaman jazz saat ini terlalu terpola dan terkotak dengan negeri asalnya Amerika. Tapi beberapa musisi mencoba menggeser wilayah itu.
Di Indonesia misalnya ada grup musik Krakatau yang muncul pada tahun 1990-an. Lalu menyusul grup-grup lainnya di Indonesia yang memadukan jazz dengan musik etnik.
Meski begitu, tidak ada pengkotak-kotakan mana pure jazz, jazz etnik atau jazz yang berfusi dengan musik lainnya, karena akhirnya melebur dalam satu wilayah, musik jazz.
Tak hanya grup musik aliran jazz yang tampil di Bandung World Jazz, tampil pula band rock dari India Parikarma juga grup gambus modern Debu. Gelaran Bandung World Jazz Festival masih akan terus berlanjut hari ini dan berlangsung sampai malam nanti. Mari nge-jazz! (ema/ern)










































