Meski tidak ada api sungguhan, hanya ada kertas bertuliskan "kebakaran", namun para peserta simulasi kebakaran yang dilakukan di RSHS, Kamis (26/11/2009), tetap serius.
Dari simulasi terlihat beberapa persoalan teknis yang menjadi alasan akan pentingnya diadakan simulasi. Salah satu contoh, upaya pemadaman yang dilakukan 5 peserta simulasi tidak berjalan baik. Dua kali selang dipasang, selalu lepas saat keran hidran dibuka. Selang baru terpasang saat petugas pemadaman tiba kurang dari 10 menit kemudian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kebijakan dari pusat memungkinkan kita setahun 2 kali, maka akan kita lakukan. Tetapi kalau tidak, setidaknya bisa setahun sekali," tuturnya.
Dari sekitar 4.000 karyawan RSHS, ditargetkan sepertiganya menguasai apa-apa yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran. "Yang sudah mengikuti pelatihan kebakaran 800 orang, itu masih kurang dari target. Makanya kami tetap mengusahakan agar pelatihan ini tetap ada," ujarnya.
Tidak adanya api atau sungguhan juga dijelaskan Tri adalah untuk mencegah terjadinya kepanikan pasien. Tetapi di luar ini, ini menjadi salah satu cara mereka untuk mengakali masalah biaya.
"Pada tahun 2004 lalu, kita mencoba menggunakan api dan asap. Ternyata dana yang dikeluarkan cukup besar. Untuk apinya saja diperlukan Rp 1 juta. Sedangkan untuk tahun ini tidak ada budget khusus pelatihan penanggulangan kebakaran," jelasnya.
(lom/lom)










































