Seperti dituturkan Riana Zaumil Azmi siswi 3 SMA 9 Bandung, ia dan teman-temannya merasa lega. "Artinya UN yang menjadi momok setiap menjelang kelulusan, sekarang sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi kami akan tetap belajar semaksimal mungkin untuk menempuh ujian kelulusan," tuturnya.
Riana dan puluhan siswa lainnya bersama dengan para guru menggelar Syukuran Kemenangan Gugagatan UN di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Rabu (25/11/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Yeni Hendriani, siswi kelas 3 SMA 9 Bandung menuturkan, UN selama ini hanya menjadi ajang kejar nilai, bukan menjadi ukuran kemampuan lulusan.
"Selama ini kondisinya para siswa berlomba-lomba meraih nilai tertinggi untuk lulus dari ujian nasional dengan cara apa pun. Padahal, kalau diukur kemampuan sebenarnya belum tentu kualitas siswa tersebut baik," tuturnya.
Hal senada dituturkan Lutfi Oktavian siswa kelas 3 SMA 12 Bandung. "Sistem penilaian UN sekarang tidak tepat karena dilakukan pemerintah pusat. Kelulusan seharusnya ditentukan oleh sekolah masing-masing yang lebih dekat dengan siswa dan tahu kondisi masing-masing siswa. Bukan oleh pemerintah pusat yang hanya mengawasi dari jauh," timpalnya.
"Dengan sistem UN yang seperti ini, kita seolah dibebani dengan kebijakan yang tidak jelas. Sempat ada Kebijakan UN sekali, dua kali, dan berganti-ganti. Padahal kewajiban kita seharusnya fokus belajar," lanjutnya. (lom/lom)











































