Hal ini diutarakan dosen sekaligus peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB Dr Taufikurahman di Kampus ITB, Senin (23/11/2009).
"Indonesia sangat kaya untuk sumber daya produk bioindustri. Tetapi produksinya masih dalam skala terbatas. Hal ini dikarenakan masih minimnya dana untuk melakukan riset. Padahal negara mana pun tidak akan maju tanpa riset," ujar Taufikurahman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan adanya acara ini, kami berharap pemerintah bisa lebih peka terhadap riset produk-produk bioindustri karena banyak manfaatnya bagi masyarakat," harapnya.
Lebih lanjut Taufikurahman menuturkan, saat ini masyarakat lebih menginginkan produk-produk yang aman dikonsumsi. Solusinya untuk itu adalah produk bioindustri seperti bio youghurt juga kompos yang dihasilkan dari jamur (nutrasitika).
Taufik menambahkan, acara ini juga merupakan persiapan SITH ITB yang akan membuka jurusan baru yakni bioengineering tahun 2010.
"Dari survei yang kita adakan sejak 3 tahun lalu, kebanyakan mahasiswa lebih berminat pada biologi terapan seperti ini daripada biologi murni. Ini lebih aplikatif dan lebih mudah diserap lapangan kerja," jelasnya.
Selain konferensi internasional, akan ada juga pameran yang menampilkan produk-produk bioindustri dari 19 perusahaan dalam bidang pertanian, pangan, kesehatan lingkungan dan bioenergi. Perusahaan tersebut antara lain Medco, Biofarma, Jamu Jago, Petrokimia Gresik juga Hikombe Nutrasitika.
Hikombe merupakan salah satu perusahaan yang risetnya dilakukan oleh ITB terkait proses pengolahan sampah menggunakan jamur.
Akan ada 157 peserta nasional dan internasional seperti dari Malaysia, India, Pakistan, Thailand, Nigeria, Turki, Bangladesh dan Cina. Pembicaranya juga dari dalam dan luar negeri, di antaranya adalah Prof. Sorgellos dari Ghent University Belgium, Prof. T.R Hirst dari ANU Australia dan para pembicara dari perusahaan serta SITH ITB.
(lom/lom)











































