Ayah Ajeng, Radiwan (44) mengaku Ajeng diberikan Supramox oleh perawat di Puskesmas Haurgeulis 3x1 sehari. Setelah gejala timbul, dokter Haurgeulis mengaku harusnya Ajeng diberikan obat 3x1/2 sehari.
Salah satu dokter penyakit dalam RSHS dr Primal Sudjana mengatakan kasus Ajeng bisa terjadi karena pasien mengalami alergi terhadap obat tertentu. "Tidak semua orang cocok dengan obat yang di jual dipasaran, bahkan yang diberikan dokter sekalipun," tutur Primal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Primal menuturkan, efek samping dari alergi obat bisa langsung terjadi begitu obat dikonsumsi atau beberapa waktu setelahnya.
"Tergantung level alerginya. Bisa saja langsung, atau harus beberapa kali minum. Sama saja dengan makanan. Semisal A alergi udang, sekali
makan tidak apa-apa tapi beberapa kali makan langsung gatal-gatal," ujar Primal.
Terkait dosis pemberian perawat kepada Ajeng yang keliru, Primal menuturkan penyebab timbulnya alergi bukan dari dosisnya. "Kandungan obatnya yang sudah tidak cocok. Sekalipun dosisnya pas, kalau tubuh si pasien sudah menolak, ya terkenalah alergi itu," terangnya.
Untuk mencegah kasus seperti ini terulang, Primal menyarankan untuk mencatat obat-obat apa saja yang sudah pernah dikonsumsi dan menimbulkan alergi.
"Karena tidak bisa dicegah, catat saja obat-obat yang pernah menimbulkan alergi. Kecuali kalau belum pernah mencoba terus terkena sudah tidak bisa diapa-apakan. Solusinya ya menyembuhkan alerginya," ujarnya.
(dip/ern)










































