"Kata dokter di RSHS, anak saya alami stevens jhonsons syndrome, katanya karena enggak cocok obatnya," kata Radiwan ditemui di RSHS, Jalan Pasteur, Senin (16/11/2009).
Berdasarkan Websterโs New World Medical Dictionary, SJS didefinisikan sebagai reaksi alergi menyerang keseluruhan tubuh, dengan karakteristik berupa rash atau kemerahan yang mengenai kulit dan selaput lendir, termasuk selaput lendir mulut. Penyakit ini disebabkan oleh reaksi hipersensitif (alergi) terhadap obat atau virus tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Radiwan mengaku bersyukur anaknya dirawat di RSHS, sebab bisa menggunakan Jamkesmas. "Kalau di Hermina kemarin, kan enggak bisa pakai Jamkesmas, jadi saya harus membayar Rp 8 juta untuk dua hari perawatan," ujar Herdiwan yang berprofesi sebagai guru madrasah tsanawiyyah ini.
Selama dirawat di RSHS, baik Herdiwan maupun istrinya Ainah (33), tak bisa menunggu terus menerus di samping anak keduanya. Mereka hanya sesekali diperbolehkan masuk menjenguk anaknya.
"Saudara saya yang kemarin datang dari Indramayu pun enggak sempat bertemu anak saya, mereka cuma bertemu kami," kata dia.
Ajeng alami sakit panas pada 31 Oktober 2009. Lalu pada 1 November 2009 dibawa ke Puskesmas dan ditangani oleh perawat dan diberi obat antibiotik Supramox 3x1 sehari. Beberapa jam setelah minum obat itu, sekujur tubuh Ajeng keluar bintik-bintik merah.
Keesokan harinya dibawa kembali ke puskesmas, lalu dirujuk ke RSUD Subang. Sepekan dirawat di RSUD Subang, kondisinya makin parah. Bintik merah makin banyak dan warnanya berubah menjadi cokelat tua serta melepuh.
Akhirnya pada 11 November dirujuk ke RSHS. Karena ruang PICU anak RSHS Penuh, Ajeng sempat dirawat dulu di RS Hermina. Kemudian pada 13 November dibawa kembali ke RSHS.
(ern/ern)











































