"Yang ngasih obatnya perawat bukan dokter," ujar Radiwan, ayah Ajeng ditemui di RSHS, Jalan Pasteur, Senin (16/11/2009).
Radiwan bercerita Ajeng mengalami panas tinggi pada tanggal 31 Oktober 2009. Lalu dibawa ke Puskesmas Haurgeulis pada 1 November 2009. Menurutnya yang menangani Ajeng saat itu bukan dokter, melainkan seorang perawat. Dalam bungkus obat yang diberikan, obat itu harus diminum 3x1 sehari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena dokter puskesmas tidak mampu, akhirnya puskesmas merujuk Ajeng ke RSUD Subang. Seminggu dirawat, bintik-bintik merah itu berubah menjadi cokelat tua dan mulai mengelupas.
Ditunggu 3 hari, ternyata bintik-bintik merah itu makin banyak dan juga menjadi cokelat. Kulit Ajeng melepuh, seperti korban luka bakar. Kemudian RSUD Subang merujuk Ajeng ke RSHS pada tanggal 11 Oktober 2009.
Pada hari itu juga, Ajeng kemudian dibawa ke RSHS. Saat tiba di Bandung, kondisi Ajeng makin parah. Kulitnya yang berawal cokelat tua, menjadi menghitam dan mengembung.
"Karena ruang PICU RSHS penuh, akhirnya dibawa dulu ke RS Hermina. Di sana dirawat dua hari, lalu pada 13 November pukul 20.00 WIB dibawa ke RSHS," ungkapnya.
(ern/ern)










































