Demikian dituturkan oleh BJ Habibie selaku ilmuwan dan mantan presiden RI kepada wartawan usai memberikan Kuliah Umum 'Indonesia 2045, Superpower Baru?' di Aula Barat ITB Rabu (4/11/2009).
"Anggaran negara untuk ristek di Indonesia masih terlampau kecil, hanya 10 sampai 20 persen saja dari anggaran yang dulu saya anggarkan saat menjabat Menristek," tutur Habibie.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Habibie juga mengatakan bila anggaran ristek harus bisa membiayai semua hal yang berhubungan dengan iptek. "Kita tidak bisa mengharapkan kerjasama pada luar negeri. Karena sejatinya kaki kita sendiri yang menentukan langkah kita," lanjutnya.
Di ujung wawancara, Habibie menuturkan pandangannya bahwa industri di Indonesia harusnya bersifat industri terintegrasi.
"Industri di Indonesia jangan hanya bermain di bursa. Tapi juga mengintegrasikan iptek dan imtak, dengan begitu industri bisa menjadi wahana pembaharu untuk kemajuan peradaban bangsa," tutup Habibie.
(dip/lom)










































