Seperti dituturkan Communication Director World Vision Indonesia Katarina Hardono di sela-sela acara Lokakarya Eksibisi 'Evaluasi Kampanye dan Antistigmatisasi terhadap ODHA' di Ruang Seminar Fak Teknik Industri ITB, Jl Ganesa, Jum'at (30/10/2009).
"Sebenarnya stigma bentukannya yang keliru. Selama ini selalu anggapannya HIV/AIDS mematikan. Padahal jika dibandingakan flu babi ataupun Tuberculosis, HIV/AIDS jauh lebih tidak berbahaya karena penularannya tidak akan terjadi lewat kontak tidak langsung," imbuh Katarina.
Pendapat senada juga diutarakan oleh Joko Siswanto, Dosen Teknik Industri dan perwakilan LPPM ITB.
"Banyak ODHA yang berpotensi dan produktif, namun karena stigma negatif tadi gerak mereka menjadi sempit. Semisal penerimaan di sebuah perusahaan yang menjadi diskriminatif lantaran seseorang yang sebenarnya berpotensi, namun karena mengidap HIV/AIDS ditolak. Padahal jika dibandingkan dengan pengidap demam berdarah akut, yang rentang usianya lebih pendek ketimbang ODHA harusnya masyarakat bisa lebih terbuka pikirannya," ujar Joko panjang lebar.
Joko menambahkan, dari riset yang dilakukannya di Bali dan Surabaya dalam One Life Evolution (OLE) bulan Agustus dan September lalu, masih banyak pandangan yang keliru soal HIV/AIDS.
"Masih banyak yang menyangka penggunaan alat makan, pakaian atau alat mandi yang sama dengan ODHA menimbulkan penularan. Padahal penularan hanya akan terjadi lewat darah dan hubungan seksual. Lewat acara semacam OLE ini kami yakin stigma itu perlahan-lahan akan berubah," harapnya.
(dip/ern)











































