"Lewat eksibisi interaktif, pengunjung diposisikan sebagai penderita bukan penonton. Sehingga mereka bisa merasakan yang dirasakan oleh ODHA (orang dengan HIV AIDS)," tutur Joko Siswanto, Dosen Teknik Industri dan perwakilan LPPM ITB, dalam acara 'Lokakarya Eksibisi Evaluasi Kampanye dan
Antistigmatisasi terhadap ODHA' di Ruang Seminar Fak Teknik Industri ITB, Jl Ganesa, Jum'at (30/10/2009).
Salah satu lembaga yang telah menggunakan metode ini adalah World Vision Indonesia (WVI). "Kita membaca kalau selama ini kampanye HIV/AIDS cenderung normatif dan tidak menghilangkan stigma negatif masyarakat Indonesia terhadap ODHA," tutur Communication Director
World Vision Indonesia Katarina Hardono, ketika ditemui di sela-sela acara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Metode yang digunakan adalah metode Guttman dalam kuesioner yang diberikan kepada 2.500-an pengunjung untuk masing-masing kota pada saat masuk dan keluar dari eksibisi," imbuh Joko.
Joko menambahkan, untuk pembanding pihaknya mengambil sampling dari responden yang tidak mengunjungi.
"Dari hasil penelitian di dua kota itu, ada kenaikan yang cukup signifikan sekitar 9 hingga 13 persen. Di Surabaya peningkatan terjadi
9 persen, sedangkan di Bali peningkatan terjadi sebesar 13 persen," imbuh Joko.
Dari peningkatan tersebut, Joko optimis jika sistem ini adalah sistem yang paling efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap HIV/AIDS.
"Semakin sering gelaran seperti OLE diselenggarakan, tingkat kepedulian masyarakat terhadap HIV/AIDS bisa terus ditingkatkan bahkan hingga level mendekati sempurna," tutur Joko.
WVI sendiri berencana menggelar OLE di Jakarta November mendatang, sekaligus sebagai selebrasi Hari AIDS se-dunia pada Desember mendatang.
"Mudah-mudahan acara ini bisa menjadi agenda tahunan dan Bandung bisa masuk di dalamnya. Namun kami juga terbuka bila ada pihak-pihak yang berniat menyelenggarakan acara dengan konsep seperti OLE ini," ujar Katarina.
(dip/ern)











































