Semangat untuk berubah para mantan napi di Babakan Asih, serta kekompakan warga untuk bergerak, menjadi kunci suksesnya program pembenahan lingkungan yang kini sedang berlangsung.
Jika mengambil contoh di Babakan Asih, transfer pemahaman sosial, diskusi, paparan ide hingga realisasi, dibutuhkan waktu sekitar 10 tahun yang diawali program advokasi warga oleh Reggi Kayong Munggaran dari Common Room.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Investasi sosial masyarakat seperti yang dilakukan Reggi dan Common Room itu sangat penting. Jika warga tidak siap, tidak sepaham dengan program yang akan diterapkan, ide-ide kreatif kita hanya berhenti di atas meja gambar," ujar Ridwan Kamil dari Urbane, yang ikut menyusun ide kreatif terutama visual yang diterapkan di RT 04.
"Yang terjadi di Babakan Asih, diharapkan bisa di modifikasi untuk daerah-daerah lain. Pertanyaannya, apakah warga di daerah lain itu sudah siap? Ada tidak yang menggerakkan dan mengkoordinir warga? Itu yang sulit," lanjut pria yang akrab dipanggil Emil.
Kondisi sosial masyarakat ini, dinilai Emil jadi syarat mutlak. Sementara kebutuhan materil dan ide merupakan tahapan selanjutnya. "Jika ngomong dananya dari mana, itu bisa dicari. Dengan program yang berjalan di Babakan Asih saat ini saja, banyak yang tertarik baik perusahaan maupun perorangan. Tetapi sulit menemukan daerah yang warganya punya kekompakan sosial seperti di Babakan Asih," jelasnya.
Dilanjutkan Emil, kesuksesan gerakan warga di Babakan Asih merupakan hasil kolaborasi antara warga dan kelompok masyarakat lainnya, termasuk donatur dari swasta atau perorangan. Sementara pemerintah belum terlibat langsung.
"Kalau pemerintah mau, upaya yang bisa dilakukan semudah menganggarkan dana. Tetapi itu tadi, harus dilihat juga dimana akan diterapkan. Ada atau tidak yang seperti Reggi cs atau Karang Taruna di daerah tersebut? Warganya harus siap, tidak bisa hanya tau jadi. Karena apa yang dikerjakan harus berkelanjutan," simpulnya.
(lom/lom)











































