Sebelum ke tahap pelaksanaan, langkah pertama yang dilakukan warga dimotori Karang Taruna RT 04 yang menamakan dirinya Kartoen Ervat, adalah mengkampanyekan betapa pentingnya menjaga lingkungan tetap bersih, dan itu dimulai dari rumah-rumah.
Warga diajak diskusi agar sama-sama mendukung program penanganan sampah. Aplikasinya yang paling sederhana yaitu dengan tidak langsung membuang sampah apalagi ke sungai, tetapi mengumpulkannya untuk diambil oleh petugas yang akan membuang sampah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini masih tahap kesadaran mengumpulkan sampah. Tahap selanjutnya nanti adalah bagaimana memisahkan sampah organik dan an-organik, mengurangi penggunaan sampah hingga pemanfaatan sampah. Kita lakukan bertahap," ujar Reggi Kayong Munggaran, aktivis yang mendampingi warga sejak tahun 2000.
Untuk pelaksanaan program penanganan sampah ini, dibuatlah sistem pengelolaan swadaya oleh warga. Sampah ditarik seminggu 4 kali. Petugasnya pun merupakan warga setempat.
Warga mengumpulkan iuran sebesar Rp 2.000 per minggu dan diberikan ke bendahara Kartoen Ervat. Uangnya digunakan selain membayar petugas yang mengangkut sampah sebesar Rp 350 ribu, sebagian lagi untuk kebutuhan operasional Kartoen Ervat.
Ada struktur kerja yang disiapkan untuk menangani masalah sampah. Koordinator kebersihan Didin Miki (32) menuturkan, setiap hari ada 2-3 orang yang melakukan patroli. Mereka bertugas keliling perumahan warga, dan mengingatkan pemilik rumah jika ada sampah di sekitar rumahnya.
"Kalau daerahnya kotor, ditegur. Tetapi mereka juga sekalian mengumpulkan sampah. Jam patrolinya terserah, yang penting tiap hari ada. Mau siang atau malam. Setiap patroli, paling hanya sekitar 30 menit," tutur Didin.
Setiap hari petugas patroli memberikan laporan langsung ke koordinator jika ada masalah ketika pelaksanaan pengumpulan sampah, sementara evaluasi bersama diilakukan setiap minggu. Setelah berjalan sejak Mei 2009, program patroli ini dinilai efektif meminimalisir sampah di sekitar rumah warga.
"Kita selalu evaluasi target-target yang ditetapkan sudah sejauh mana dilaksanakan. Kalau tidak tercapai, kendalanya apa saja kita bahas bersama," lanjut Didin.
Program terdekat Kartoen Ervat terkait masalah sampah adalah bagaimana mengelola sampah organik. "Kita sudah siapkan pelatihan, melibatkan aktivis lingkungan yang sangat paham soal ini. Fokusnya adalah bagaimana proses pengolahannya, menjadi sesuatu yang berguna seperti kompos. Tetapi proses itu harus diawali yang sesederhana mungkin yang bisa dilakukan," sambung Reggi.
"Untuk daur ulang sampah an-organik seperti bungkus deterjen dan sampah plastik menjadi barang yang bernilai guna seperti tas, masih perlu dikaji lagi. Seberapa besar sampah itu dihasilkan warga, dan kesiapan mengolahnya," lanjut Reggi.
(lom/lom)











































