Salah satu sosok yang terjun membangun kesadaran warga adalah Reggi Kayong Munggaran, lulusan Fakultas Hukum Unisba yang juga mantan aktivis di LBH Bandung.
"Awalnya saya masuk untuk memberikan bantuan dari aspek hukum kepada masyarakat di sini. Itu dimulai sekitar tahun 2000," tutur pria penuh tato ini mengawali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika diskusi, organisasi yang diundang berbagi ide dan pengalaman mereka dalam bidang masing-masing. Common Room yang giat mengadvokasi dan membantu perkembangan dan jaringan komunitas di Kota Bandung, menularkan cara-cara mengelola dan memberdayakan potensi warga.
Rumah Cemara berbagi pengalaman dan pemahaman mereka mendampingi para korban penggunaan narkoba, terkait aspek-aspek sosial, hukum, kesejahteraan, kesehatan dan lainnya. Semua dilakukan dari awal untuk menyiapkan sumber daya manusia, menyamakan pemahaman, menumbuuhkan kesadaran hingga bertindak.
"Warga sampai ke tingkat inisiatif seperti ini merupakan capaian hampir 10 tahun," lanjut Reggi.
Saat kesadaran pemuda yang tadinya dianggap sampah muncul, kelompok masyarakat lainnya tidak serta-merta paham dan terlibat bersama. Meski sebenarnya di antara 500 warga RT 04 ada yang berstatus mahasiswa, bahkan pascasarjana, juga kelompok yang aktif di kegiatan keagamaan.
"Dengan program dan kegiatan yang digagas bersama kelompok masyarakat di luar yang peduli, para pemuda di sini yang bergabung dalam Katoon Ervat harus bekerja keras membuktikan dirinya berguna, untuk mendapatkan kepercayaan warga. Masa-masa dulu itu sudah selesai," tambah Reggi.
Keterlibatan kelompok masyarakat di luar warga RT 04 pun semakin melebar. Ada Urbane yang merupakan kumpulan para arsitek, komunitas Flagrance Act Bombing yang ahli menggambar mural, bahkan sosok seniman dan budayawan seperti Tisna Sanjaya. Seniman asal Bandung ini dengan lugas mengajak anak-anak melukis di tembok.
Kegiatan-kegiatan yang melibatkan komunitas dari luar Babakan Asih ini, ternyata mampu membangkitkan kesadaran warga RT 04. Perlahan-lahan kegiatan yang disampaikan Kartoen Ervat mulai mendapat perhatian dan respon warga. (lom/lom)










































