Kampung Napi Jadi Kampung Teladan (1)

Kampung Napi Jadi Kampung Teladan (1)

- detikNews
Rabu, 28 Okt 2009 12:01 WIB
Kampung Napi Jadi Kampung Teladan (1)
Bandung - RT 4 Kelurahan Babakan Asih dahulu jauh dari gambaran tempat tinggal idaman. Perumahan padat, selalu banjir tiap hujan lebat, dan para pemudanya mayoritas bertitel "RSD" alias residivis jebolan "Universitas Kebon Waru".

Masuk dari Gang Maksudi 4 sebuah jembatan kecil menjadi akses menuju RT 4 RW 1 Kelurahan Bababak Asih Kecamatan Bojongloa Kaler. Gang sempit yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua, terpecah menjadi puluhan anak gang yang total panjangnya 680 meter. Sekitar 101 kepala keluarga mengisi rumah-rumah sederhana tanpa garasi mobil di kiri dan kanan gang.

Ada perasaan unik saat menelurusi lorong jalan. Dinding-dinding rumah berwarna-warni, mural dengan ragam tema jadi hiasan. Walau tanpa halaman tidak satu pun rumah yang luput dari tanaman atau bunga yang digantung juga ditanam di sisa tanah yang sempit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski padat penduduk, cukup sulit menemukan sampah apalagi plastik yang tercecer. Ini semua karena warga sepakat menggulirkan program penanganan sampah, banjir serta program sosial lain yang dikelola sendiri.

Sebelum adanya gerakan warga yang dimulai sekitar Mei 2009, daerah ini merupakan langganan banjir. Tidak harus menunggu musim hujan, cukup hujan lebat satu jam saja maka RT 4 akan berubah jadi jalur aliran air yang tingginya setengah sampai satu meter. Banjir terjadi puluhan kali tiap tahun.

Posisinya yang berada di jalur anak sungai Citepus dan lebih rendah dari jalur irigasi terbengkalai di atasnya, menjadikan air mengalir cukup deras saat banjir. Bahkan jembatan sebagai akses untuk masuk ke RT 4 pun ikut terendam. Orang dewasa harus berjaga-jaga di jembatan untuk memastikan anak sekolah melintas dengan aman.

Bahkan di titik-titik tertentu, pelajar SD harus digendong karena kedalaman air yang sampai satu meter. Ketika hujan lebat selesai, air menggenang bahkan sampai tiga hari.

Tidak cukup sampai di situ, kata rukun dan harmonis jauh dari kondisi sehari-hari. Tanah kosong ukuran lapangan voli yang berada di tengah pemukiman warga, jadi arena perkelahian yang hampir tiap hari terjadi.

Anak mudanya mayoritas mantan narapidana. Pekerjaan mereka pun tidak tetap, berbagai hal melawan hukum mereka lakukan untuk bertahan hidup.

Tetapi perubahan terjadi. Para mantan napi itu menandai perjuangan mereka mendapatkan kepercayaan warga dengan membentuk karang taruna yang mereka namakan Kartoen Ervat. Ini merupakan pelesetan dari kepanjangan Karang Taruna RT 4. Yang lebih menarik, 16 pemuda yang menjadi pengurus Kartoen Ervat, seluruhnya pernah merasakan kehidupan di penjara.

Sebuah saung sederhana mereka dirikan di sebidang tanah yang belum dibangun, sebagai tempat berdiskusi dan pusat kegiatan mereka. Di sinilah gagasan dan program-program warga diproses mulai perencanaan hingga evaluasi.

Sekitar 500 jiwa warga RT 4 kini melihat para mantan napi itu sebagai orang yang jauh lebih bernilai. "Dulunya tidak dipercaya, sekarang menjadi kepercayaan warga," ujar Ahmad Ruyani (44) Ketua RT 4 RW 1 Kelurahan Babakan Asih.

Salah satu warga yang juga mantan napi adalah Sandi (27). Pria yang panggilan akrabnya Om Roy ini merasakan 2 minggu di rutan Kebun Waru. Sekarang ia berperan sebagai sebagai wakil ketua RT.

"Dulu, jangankan menegur, kalau warga mau melintas tetapi melihat kita di ujung gang, mereka akan balik arah. Tidak ada yang mau mendekat apalagi menegur," ujarnya menuturkan bagaimana rasanya menjadi orang yang dipandang seperti penyakit oleh orang lain.

Kini merekalah yang menjadi akar pergerakan warga, mengubah lingkungan mereka yang tadinya rawan dan seperti sampah menjadi jauh lebih nyaman. Pandangan negatif terhadap para alumni Rutan Kebon Waru itu pun berubah drastis.

"Yang dulunya tidak pernah menegur, sekarang malah mereka yang menghampiri untuk ngobrol," sambung Om Roy. (lom/lom)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads