"Tanggal 7 November memiliki makna yang dalam, karena di tanggal tersebut pujangga Rendra dilahirkan," tutur Ipong Witono, salah satu panitia dan penggagas ide Bandung Mengenang Rendra (BMR), dalam press conference Bandung Mengenang Rendra, di Gedung Indonesia Menggugat, Jl Perintis Kemerdekaan, Senin (26/10/2009).
Ipong menambahkan gagasan menjadikan 7 November sebagai hari kebudayaan nasional berawal dari salah satu esei Rendra yang berjudul 'Mempertimbangkan Tradisi'.
"Dalam esainya itu, secara tegas ia mengatakan bahwa keberangkatan seni seorang Rendra berakar kepada seni yang ada di lingkungan hidupnya, bumi nusantara," tuturnya.
Berbekal semangat Rendra, jelas Ipong, hari itu diharapkan bisa menjadi satu hari di mana energi budaya terkumpul dan berdasar pada kemanusiaan, perdamaian, dan kecendikiaan untuk 364 hari lainnya, agar manusia bertindak dengan landasan kebudayaan.
'Bandung mengenang Rendra' akan digelar mulai 28 Oktober 2009 hingga 15 November 2009. Pada acara tersebut akan ada pameran senirupa Megatruh Kambuh, pameran senirupa "Nyanyian Angsa" yang terinspirasi dari karya-karya puisi Rendra, pemutaran film, hingga kilas balik eksibisi beberapa karya Rendra.
Selain itu, akan diluncurkan pula CD yang berisi dokumentasi singkat karya-karya Rendra yang bertujuan untuk terus menghidupkan Rendra di kalangan generasi muda. Acara akan digelar di GIM, Yayasan Pusat Kebudayaan, Bale Rumawat Unpad, Unpar, dan STSI.
(avi/ern)











































