Seperti dituturkan oleh Aceng (30), warga Desa Kiangroke RT 04 RW 05 Kecamatan Banjaran. Dirinya bersama dengan ratusan orang lainnya menjadi korban dari bencana yang berpusat di Tasikmalaya pada Tanggal 2 September 2009 lalu.
"Aya 100 imah di lembur anu rusak. Tapi eweuh bantuan (ada 100 rumah di kampung yang rusak. Tapi tidak ada bantuan)," keluhnya kepada detikbandung, Selasa (20/10/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Udah berapa kali kita didata. Ditanya kerusakan dan korban. Tapi cuma didata saja tanpa ada kepastian apakah kami mendapatkan bantuan atau tidak," ungkapnya.
Disinggung apakah para warga dijanjikan akan mendapat bantuan, Aceng mengaku dirinya bersama dengan warga yang lainnya mengetahui perihal bantuan tersebut dari berita di televisi. "Kita tahu dari berita di televisi," ujarnya.
Hal senada juga dikeluhkan oleh Iman Iim (29), warga Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan. Dirinya menjadi korban dari gempa terjadi pada tanggal 2 September silam. Bukan hanya rumahnya yang rusak parah, istrinya pun terluka pada bagian kepalanya.
"Kalau tidak dijanjikan, kami juga tidak akan menuntut. Namanya juga bencana, mana mungkin kita menuntut ke Tuhan," ucapnya lirih.
Iim mengaku, sampai saat ini belum ada bantuan dalam bentuk uang yang diterimanya. Padahal dirinya sangat membutuhkannya untuk membangun kembali rumahnya yang rusak parah.
"Sampai sekarang kami cuma mendapatkan 3-5 bungkus mi instan tiap harinya," keluhnya.
Gempa yang berpusat di Tasikmalaya itu meluluhlantakkan daerah-daerah lainnya di Jabar. Garut, Pangalengan dan Cianjur terkena dampak gempa yang berskala 7,6 SR itu.
(afz/ern)










































