Hal tersebut dikatakan Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Rizal Chaidir kepada wartawan yang ditemui di ruang kerjanya di RSHS, Jalan Pasteur, Senin (19/10/2009). "Ada 2 laporan yang masuk bulan ini, kasus seperti ini bukan hal yang baru," katanya.
Menurut Deis begitu ia akrab disapa, penipuan dengan memanfaatkan kepanikan orang itu tidak hanya terjadi di RSHS saja, melainkan di RS lainnya di Indonesia. "Di RSCM, Semarang, Yogya, modus seprti ini sering ditemukan," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Korban dihubungi seseorang yang mengaku polisi yang mengaku membawa anaknya ke UGD dan membutuhkan segera transfer sebanyak Rp 8 juta untuk membeli peralatan. Untungnya yang pertama ini tidak langsung mentransfer," kata Deis.
Saat dihubungi kembali ke nomor yang mengaku polisi tersebut, nomornya jadi tidak aktif. "Lagipula polisi itu tidak menyebut polseknya," kata Deis.
Namun sial bagi Suroto (42), karena panik langsung mentransfer uang sejumlah Rp 18 juta setelah mencoba mengecek nomor hp anaknya itu tidak aktif.
"Dia ditelepon oleh orang yang mengaku dokter bernama Asep Sunandar yang merupakan dokter di UGD. Dia bilang kalau tidak metransfer Rp 18 juta anaknya bisa meninggal. Ketika menelepon anaknya yang saat itu tidak aktif, dia langsung mentransfer karena panik," kata Deis.
RSHS tidak menanggung apapun. "Itu diluar tanggung jawab kami," tandasnya.
"Jika menerima telepon seperti itu cek dulu ke no kita di 022-2037066. Jangan langsung perjaca," imbau dia.
(tya/ern)










































