Dalam aksinya, salah seorang dari mereka menaiki sepeda ontel, layaknya lagu Iwan Fals berjudul 'Oemar Bakri'.
Ratusan guru tersebut datang sekitar pukul 09.00 WIB dengan membawa atribut seperti poster bertuliskan 'Guru Honorer Baik di Papan Nama Pusara di Alam Nyata', dan 'Hargai Masa kerja Kami'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain banyaknya nasib guru honorer yang tidak jelas, sambung Tia, kontribusi yang diberikan pemerintah kepada guru honorer jauh dari kelayakan.
"Bayangkan, kalau satu jam dibayar RP 10 ribu, kalau 10 jam RP 100 ribu. Kenyataannya guru honorer dibayar per bulannya sama dengan dengan gaji seminggu," tuturnya.
Para guru honorer pun menuntut menuntut enam poin pada pemerintah yang di antaranya merevisi peraturan pemerintah No 43 tahun 2007, tentang pengangkatan PNS yang tidak memihak pada nasib guru honorer.
Mereka juga meminta hak yang sama antara guru honorer dan PNS khususnya pasal 15 perihal hak dan kewajiban guru.
Aksi berjalan dengan tertib. Sambil menunggu diterima dewan, para guru menyanyikan lagu hymne guru.
Setelah selesai audiensi dengan anggota dewan, para guru honorer melakukan long march untuk melakukan aksinya di GedunG DPRD Kota Bandung. (ema/ern)











































