"Saparua jangan sampai berhenti, bangkitkan lagi tanpa boleh berhenti," kata Project Director Independent Network Indonesia Reza Pamungkas, saat audiensi penyelenggaraan Helarfest di Kantor detikbandung, Senin (12/10/2009) malam.
Ia menambahkan, Saparua memiliki wilayah strategis dan magnet tersendiri dalam menyedot pengunjung di setiap penyelenggaraan kegiatan yang dilakukan oleh muda-mudi Bandung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tempat sama, Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) Ridwan Kamil menuturkan, sejarah kemegahan Saparua sebagai basis komunitas muda Bandung sudah dikenal sejak era tahun 70-an. Bukan saja sebagai basis musisi tapi juga olahraga.
"Sejak zaman Bimbo ada Saparua sudah dijadikan basis komunitas di Bandung," ujarnya.
Menurutnya, baik itu pemerintah provinsi dan kota harus duduk bersama membicarakan soal nasib center kaum muda Bandung yang telah lama mati suri itu. Terlebih dengan keterbatasan ruang yang dinilai representatif bagi pegiat musik di Bandung.
"Caranya bukan dipindah ke tempat lain, tapi memelihara gedung itu agar tetap bisa diberdayakan," usul Ridwan yang juga berprofesi sebagai seorang arsitek ini.
Perkembangan dalam mengkampanyekan Saparua sebagai pusat kaum muda Bandung telah digaungkan sejak tahun lalu dalam Bandung Youth Park Fest 2008, yang juga merupakan rangkaian dari Helarfest tahun lalu.
Viki Chikara Satari sebagai Wakil Ketua BCCF pun menyatakan hal serupa. Berbagai upaya telah ditempuh BCCF dalam pelestarian Saparua sebagai basis kreatifitas muda Bandung.
"Kita sudah lakukan upaya-upaya. Sejauh ini memang belum terlihat perkembangan yang berarti, tetapi kita jangan sampai berhenti," papar Viki.
(ahy/lom)










































