Simulasi dimulai dengan terdengarnya suara riuh dan diikuti kepulan asap. Penghuni gedung mulai panik, berlarian sambil berteriak minta tolong. Beberapa di antaranya menangis histeris.
"Tolong, tolong," teriaknya. Terlihat pula seorang korban mencoba menyelamatkan diri sendiri, dengan menjalin kain dan mengikatkannya pada sebuah tiang untuk turun dari lantai 2.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa korban yang telah berhasil diselamatkan langsung ditangani oleh sejumlah anggota PMI. Terlihat juga petugas damkar melakukan penyelamatan dengan menurunkan korban melalui tali.
Dalam simulasi ini 13 orang korban dievakuasi, 3 diantaranya terluka parah hingga langsung dibawa ke RS terdekat. Yang menarik dalam simulasi kali ini, para korban didandani seperti korban sesungguhnya. Lengkap dengan warna hitam akibat kebakaran atau darah di bagian tubuh yang terluka.
Petugas PMI dan korba pun berkomunikasi layaknya dalam bencana sungguhan. Begitu pula dengan raut mukanya. Tak ada terlihat ini adalah permainan.
"Sebelah mana yang sakit?," tanya seorang petugas PMI kepada korban yang disetting mengalami patah tulang kaki. Korban pun menangis sambil berteriak histeris. "Kakinya sakit, aduh," jeritnya.
Simulasi ini disaksikan seluruh undangan dan warga yang tertarik untuk menonton. Saat simulasi dilakukan. Paruh Jalan Aceh ditutup sementara.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Prijo Soebiandino menuturkan, simulasi ini dilakukan agar kita selalu sigap saat bencana terjadi. "Gempa tidak bisa diprediksi, dengan simulasi seperti ini diharapkan kita semua tahu apa yang harus dilakukan jika itu terjadi," ujarnya yang ditemui di sela-sela acara.
Simulasi berjalan cukup lancar meskipun hujan turun.
(tya/ern)











































