Wawan (29), pedagang topi bulu yang biasa mangkal di Kawah Ratu menuturkan kepada detikbandung, Rabu (7/10/2009), semenjak didengungkan pengelolaan TWA Tangkuban Parahu akan beralih pengelola ia mengaku resah. Sebab, selain jumlah pengunjung yang sedikit karena faktor kenaikan tiket, juga karena informasi yang diterimanya menyebutkan pedagang akan direlokasi ke kawasan terminal Jayagiri.
"Jujur saya resah ini pas dengar GRPP mau ambil pengelolaan," katanya saat ditemui di warung kopi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan menolak ada masjid, kita khawatir pembangunan merambat kemana-mana dan nebang pohon," ungkapnya.
Senada dengan Wawan, Hana Mariam (23) pedagang warung nasi, juga turut merasakan kehawatiran yang dirasakan Wawan. Ia mengaku semenjak GRPP menaikan harga tiket masuk, penjualan warungnya ikut menurun.
"Tadi saya dengar 4 bis turis Malaysia enggak jadi masuk gara-gara tiketnya naik," kata Hana. "Bukan hanya tiket mahal saja, sopir bus pun ikut bayar. Padahal sebelumnya enggak pernah," jelas Hana.
Salah seorang pedagang lainnya yang enggan menyebutkan namanya turut menuturkan kekhawatirannya pada detikbandung. Sambil menyantap nasi plus ikan goreng garing ia menuturkan. "Di sini ada 3 lokasi pedagang, di Kawah Ratu, Kawah Domas, dan Terminal Jayagiri. Semua pedagang katanya akan disatukan, apa jadinya nanti?" keluhnya.
Jumlah pedagang yang mengeruk 'emas' di TWA Tangkuban Parahu, kata pedagang itu, berjumlah 1.126 pedagang. "Jangankan disatukan, di sini saja yang sudah dibagi masih aja ada gesekan, apalagi kalau ribuan," katanya dengan mulut mengunyah.
Wawan, Hana, dan pedagang lainnya berharap GRPP tidak merangsek lahan pencaharian mereka. "Hampir 99 persen pedagang di sini enggak mau GRPP mengelola, buktinya saja sekarang pedagang sudah sekarat," jelas sumber itu.
Saat ini, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan telah mengeluarkan SK pemberhentian sementara pembangunan di Tangkuban Parahu hingga PT GRPP memproses izin dengan benar.
(ahy/ern)










































