Hal itu dikatakan Peneliti Bidang Pengkajian Ozon dan polusi Udara LAPAN, dr Ninong Komala. Menurutnya, saat musim hujan, uap air mengganggu pembentukan lapisan ozon, sementara tidak adanya uap air saat musim kemarau membuat pembentukan ozon tidak terganggu.
"Dari data terlihat, pada bulan September lapisan ozon lebih tinggi dibanding bulan lainnya. sementara yang terrendah biasanya terjadi pada bulan Januari," jelas Ninong kepada detikbandung yang ditemui disela-sela acara 'Kegiatan Perlindungan Lapisan Ozon 2009' di LAPAN Bandung Jalan Pasteur, selasa (6/10/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Ninong, tren penurunan nilai ozon di Indonesia masih terbilang kecil. "Dalam 30 tahun ini penurunannya sekitar 1 persen per dekade," jelasnya.
Angka penurunan tersebut jauh lebih kecil dibandingkan penurunan di dunia atau secara global yaitu sebesar 4 persen per dekade.
Sementara batas nilai ozon yang sudah dikategorikan tidak aman yaitu berkisar di bawah 220 DU. Pada ambang batas tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti gangguan kulit, mata dan lainnya.
"Karena sinar UV yang masuk lebih banyak," jelasnya. Namun karena di Indonesia masih dalam batas normal, pengaruh terhadap kesehatan tersebut sangat kecil.
Penyebab tipisnya lapisan ozon dikatakan Ninong antara lain adanya penggunaan CFC (Cloro Floro Carbon) yang terdapat pada AC dan lemari es. Namun kini penggunaan
CFC tersebut sudah dibatasi.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga ozon yaitu dengan menjaga lingkungan seperti hutan, dan menanam pohon. (tya/ema)











































