Demikian diungkapkan Komisioner KPID Jabar Bidang Isi Siaran Nursyawal. Menurut Nursyawal merekam secara visual realita korban gempa secara berlebihan juga akan berdampak pada wartawan. Hal itu berkaca dari bencana tsunami di Banda Aceh pada beberapa tahun lalu.
"Ada wartawan yang sampai tidak bisa makan karena meliput mayat bencana, jangankan wartawan yang berada di lapangan, penonton pun pasti ngeri melihat mayat di televisi," katanya saat dihubungi detikbandung via telepon seluler, Jumat (2/10/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, KPID Jabar menyayangkan media yang menayangkan jumlah korban yang ditayangkan media. "Bencana seolah seperti olimpiade, jangan hanya mencari skor berapa. Seharusnya bagaimana membantu pemulihan trauma korban," tuturnya.
Meski demikian, imbuhnya, KPID Jabar telah mengimbau kepada beberapa media televisi untuk tidak mengulang tayangan terkait korban gempa yang dinilainya menyalahi aturan penyiaran.
"Atur kembali distribusinya," usulnya. Distribusi dimaksud adalah jika televisi ingin menayangkan jenazah korban gempa, selayaknya tayangan tersebut disiarkan di atas pukul 22.00 WIB.
"Bukanya melarang karya jurnalistik, tapi menghindari dampak negatif dari dampak tayangan tersebut yang dikhawatirkan meninggalkan trauma bagi anak-anak," jelasnya.
(ahy/ema)










































