"Selama ini belum ada Al Quran yang ada motif batik, ini yang pertama," ujar Tasaro GK, Chief Editor Salamadani Publishing kepada detikbandung yang ditemui di Salam Book House, Jalan Pasirwangi, Jumat (2/10/2009).
Dijelaskan Tasaro, pembuatan Salam Quran berawal dari keinginan menerbitkan Al Quran yang berbeda dari Al Quran lainnya. Ide motif batik pun muncul melihat adanya klaim dari negara tetangga terhadap budaya asli Indonesia tersebut.
"Isu klaim terhadap batik saat itu sedang banyak diberitakan, sehingga terpikir untuk membuat Al Quran batik untuk menunjukkan bahwa batik memang milik Indonesia," jelasnya.
Akhirnya Al Quran bermotif batik pun diluncurkan pada tanggal 17 Ramadan 1439 H, bertepatan dengan Nuzulul Quran. Desain batik tertera sebagai bingkai ayat-ayat Al Quran sebagai batas dengan tafsirnya.
"Dengan desain yang cantik, kami berharap kaum muslim merasa bangga dengan Al Quran. Motif batik membuat Salam Quran menjadi lebih indah dipandang," tutur Tasaro. (tya/ern)











































