Siswa di Pangalengan Harus Rela Berimpitan

7 Tenda untuk 3 Sekolah

Siswa di Pangalengan Harus Rela Berimpitan

- detikNews
Rabu, 30 Sep 2009 13:17 WIB
Siswa di Pangalengan Harus Rela Berimpitan
Bandung - Kondisi para siswa di wilayah gempa Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung sungguh prihatin. Di hari pertama belajar setelah libur panjang lebaran, para siswa tak bisa menempati bangunan sekolah mereka. Anak korban gempa ini terpaksa belajar di tenda darurat, yang itu pun harus berbagi dengan sekolah lainnya.

Seperti kondisi yang terjadi di tiga sekolah yaitu SD Pangalengan 1, SD Pangalengan 3, dan SMP Pasundan Pangelangan. Sebelum gempa terjadi, tiga sekolah ini berada di satu lokal dengan 24 ruangan kelas. Akibat gempa yang melanda wilayah Jabar pada 2 September 2009, 11 ruangan sekolah rata dengan tanah dan ruangan lainnya rusak berat.

Kini, berdiri 7 tenda darurat ukuran 2x10 meter yang akan dipakai untuk tiga sekolah ini. Kondisi tenda jauh dari layak untuk dipakai kegiatan belajar mengajar. Alas tenda hanya berupa terpal plastik, tanpa bangku satu pun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kapasitas setiap tenda sekitar 150 orang, itu pun dengan berdempet-dempetan," ujar Kepala Sekolah SMP Pasundan Pangalengan Dede Oneng saat ditemui di sekolahnya, Jalan Raya Pangalengan, Rabu (30/9/2009).

Menurut dia rencananya 7 tenda darurat itu aka dipakai bergantian. Sementara itu menurut Kepala Sekolah SD Pangalengan I Ngatmin, kegiatan belajar mengajar SD Pangalengan 1 dan 3 akan digabung. "Misalkan kelas 1 SD Pangalengan 1 dan SD Pangalengan 3 kita akan gabung, begitu juga dengan kelas lainnya," tuturnya di tempat yang sama.

Hari ini, acara kegiatan belajar mengajar baru halal bihalal dan sosialisasi kepada para siswa mengenai sekolah alternatif atau sekolah di tenda darurat. "Mungkin belajar baru efektif senin depan, itu pun belajarnya enggak akan seperti biasa. Kita akan selingi dengan permainan agar para siswa tidak trauma," ujar Kepala Sekolah SD Pangalengan 3 Wariah.

Penggunaan tenda darurat untuk kegiatan belajar mengajar diperkirakan akan memakan waktu hingga delapan bulan ke depan, hingga proses rekonstruksi bangunan selesai. (ern/ern)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini