Bukan karena rasanya yang menjadi tidak enak. Peuyeum yang biasanya dijual Rp 10.000 per kilogram itu kalah pamor, semata-mata karena kemasannya tidak sesimpel keripik tempe, keripik oncom atau dodol garut.
Seperti dituturkan Sadikin (40), seorang pedagang oleh-oleh di Terminal Leuwipanjang. "Rata-rata pembeli lebih berminat pada makanan kering seperti keripik atau dodol," ujarnya.
Pendapat senada diutakan Ali Akbar (38), seorang pedagang oleh-oleh di Pasar Baru. Dituturkannya, penjualan di libur Lebaran kurang diminati. Ia bahkan tidak menyetok peyeum di masa libur lebaran ini.
"Peminatnya semakin berkurang. Rata-rata mengeluh repot membawanya dan lebih memilih oleh-oleh dalam kemasan seperti keripik dan olahan lainnya," ujar Ali.
"Kemarin kami menyediakan, itu pun cuma sedikit. Dan ternyata tidak laku. Jadi untuk hari ini dan ke depan, kami memutuskan untuk tidak menyediakan peyeum lagi," lanjutnya.
Salah seorang pembeli, Yadi (32) menuturkan, membawa oleh-oleh peyeum cukup ribet. Berbeda dengan oleh-oleh lainnya. "Bentuknya lebih panjang, dan berisiko rusak. Kalau yang lain, bisa dimasukkan ke tas," ujarnya yang mudik ke Ciamis. (lom/lom)











































