Bocah Cari Uang Jajan Hingga Sandiwara di Makam

Bocah Cari Uang Jajan Hingga Sandiwara di Makam

- detikNews
Senin, 21 Sep 2009 11:03 WIB
Bocah Cari Uang Jajan Hingga Sandiwara di Makam
Bandung - Perubahan wajah pemakaman menjadi pasar, tidak cukup menggambarkan kondisi di TPU Sirnaraga saat Lebaran. Ada juga sandiwara pengemis dan kepolosan bocah-bocah yang mencari uang jajan.

Di antara ribuan peziarah dan ratusan pedagang, peminta-minta ikut meramaikan TPU Sirnaraga saat Lebaran. Pantauan detikbandung, Senin (21/9/2009), beragam cara meminta-minta yang dilakukan.

Bocah-bocah kecil mengejar para peziarah. Ada juga orang tua yang mengemis dengan duduk-dudduk di pinggir jalan. Pun ada yang pura-pura tak berdaya, memelas dan tampil lusuh, meski sebenarnya ia bukanlah lansia atau penyandang cacat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada ibu-ibu bahkan bapak-bapak yang sebenarnya cukup sehat, hanya menggunakan topi dan menunduk. Berbekal mangkuk bekas mie instan, mereka duduk di pinggir jalan dan menjulurkan tangannya ke arah para peziarah. Ada yang diam, tetapi banyak yang mengiba.

Sementara itu anak-anak menunggui di sekitar makam. Usai keluarga peziarah berdoa, gerombolan bocah tersebut langsung mendekat dan menadahkan tangannya.

Neng (8) mengaku dalam sehari saat hari pertama Lebaran mendapat Rp 50 ribu. Ia melakukan hal tersebut tidak disuruh orangtuanya, tetapi inisitaifnya sendiri. Uang yang diperoleh dipakai untuk jajan.

Sementara bayu (10) mendapat 80 ribu dari hasil meminta-minta. "Kalau lebaran banyak yang ngasih," ujarnya polos.

Para peziarah ada yang terganggu ada juga yang maklum. Seperti Wahyu (25), mengaku meski terganggu dengan banyaknya anak kecil yang mengikutinya, namun ia berusaha menerimanya. "Namanya juga setahun sekali," ujarnya.

Tentu saja ada yang benar-benar menawarkan jasa atau barang. Selain tukang pembersih makam, pedagang bunga, pedagang mainan atau pedagang makanan, tukang parkir pun mendapat untung.

Ivan (19) tukang parkir di depan Sirnaraga bisa mendapatkan Rp 400 ribu dalam sehari. Ia sebenarnya bekerja sebagai buruh pabrik. Profesi tukang parkir ia melakoni untuk mendapat tambahan.

"Hitung-hitung dapat THR tambahan," ujarnya. Dalam sehari ia bisa memarkir sampai 300 motor. Satu motor ditarif Rp 2.000, naik 100 persen dari "tarif liar" biasanya Rp 1.000. Sementara mobil ditarif Rp 5.000, dari biasanya Rp 2.000. (lom/lom)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini