Ditemui dikediamannya di Jalan Desa No 19 RT 03 RW 02, Kelurahan Babakan Sari Kecamatan Kiaracondong, Eni menuturkan dirinya telah melupakan nasib anaknya tersebut.
"Kita sudah lupain walaupun nyesak, tapi si mas (wartawan-red) datang saya inget lagi," kata Eni sembari mengusap air matanya, saat dikunjungi detikbandung, Kamis (17/9/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itulah, diakui Eni, yang mampu mendorong perlahan untuk melupakan putri ke dua dari tiga bersaudara itu.
Jelang lebaran, kisah Eni, Fitri kerap membantu dirinya dan keluarga dalam menyiapkan kue kering atau ketupat. "Kadang kalau buat kue kayak gini suka ingat, tapi mau gimana lagi," ujarnya.
Lalu, bagaimana keluarga bisa melupakan Fitri?
"Kita suka jalan-jalan ke gunung supaya bisa lupa, bukan melupakan seluruhnya tapi berusaha untuk tidak mengingat cerita itu," cerita Mulyana (49), suami Eni.
Eni mengaku masih terus berharap anak putri satu-satunya tersebut kembali berkumpul bersama keluarga. "Bahagia keluarga kalau semua dapat berkumpul di lebaran," katanya.
Fitri meninggalkan rumah pada awal Oktober 2007 silam, Fitri meninggalkan rumah bersama temannya Achriyani Yulvie, warga Karawang. Keduanya diduga kuat ikut aliran Al-Quran Suci.
Pada lebaran tahun lalu, baik Fitri maupun Achriyani mengirimkan kartu lebaran kepada kedua orangtuanya. Dalam suratnya, mereka menyatakan dalam kondisi baik-baik saja. Selain itu mereka pun mengirimkan kerudung untuk ibu mereka.
(ahy/ema)










































