Tak hanya itu, proyek itu pun dinilai telah menyebabkan polusi suara. Ketua RW 02 Amung (45), menyatakan akibat dari pembangunan itu, air di rumah warga menjadi berkurang. Dinding rumah salah satu miik warga yang langsung berbatasan langsung dengan proyek, ambruk.
"Dinding yang ambruk lebarnya sekitar 30 hingga 40 meter dengan tinggi 3 meter," kata Amung.
Karenanya, kata dia, penolakan warga sangat berasalan. Terlebih izin pembangunan proyek yang disampaikan pada warga tak sesuai dengan kenyataan.
"Sebelumnya pihak hotel meminta izin proyek kepada warga untuk pembangunan tempat parkir dan tempat tidur karyawan, tapi pas saya lihat plang proyeknya ternyata itu untuk pembangunan hotel 6 lantai dan basement dua lantai, terus terang saya kaget," ujarnya ditemui di lokasi proyek pembangunan, Jalan Sirna Manah, Rabu (16/9/2009).
Dia mengaku warga sudah melakukan pertemuan dengan pihak hotel, bahkan sempat mendatangi dinas tata kota Bandung. "Katanya dinas tata kota juga telah melayangkan surat ke pihak hotel untuk pemberhentian sementara, tapi sampai sekarang pembangunan terus berlanjut," katanya. Pembangunan pengembangan hotel itu sudah dimulai sejak Maret 2009.
Iis Ratiningsih (67), warga yang rumahnya berada di belakang proyek hotel, setelah adanya pembangunan, air di rumahnya menjadi jauh berkurang. "Semua warga yang ada di RT 7 di RW 02 ini tak setuju dengan pengembangan hotel," katanya.
Pantauan detikbandung, proyek pembangunan hotel itu hingga kini masih berjalan. Terlihar mobil molen di depan pintu masuk proyek. Sekeliling proyek dipasangi seng tinggi berwarna merah putih. Sementara Hotel Sukajadi yang bagian mukanya berada di Jalan Sukajadi, terlihat beroperasi. (ern/ern)











































