Berlari Gendong Anak Sambil Menyeret Infus

Korban Gempa Pangalengan

Berlari Gendong Anak Sambil Menyeret Infus

Baban Gandapurnama - detikNews
Jumat, 04 Sep 2009 12:24 WIB
Berlari Gendong Anak Sambil Menyeret Infus
Bandung -

Bebia Rosa Fitri terus menangis. Seorang dokter lelaki mencengkeram kaki kirinya, satu dokter perempuan mengarahkan dan menusukan jarum infus ke arah kaki tersebut. Bles! Seketika bayi berusia 10 bulan itu pun meringis kesakitan di pelukan sang ibu, Rita Solihah (27).

Bayi perempuan itu terpaksa dirawat dalam tenda yang terpasang di Kantor Camat Pangalengan. Saat peristiwa gempa terjadi, Bebia sedang menjalani perawatan di ruangan Puskesmas Pangalengan karena sakit diare.

"Saat itu, ruang puskesmas tiba-tiba bergetar. Saya tambah kaget setelah gentengnya berjatuhan," jelas Rita kepada detikbandung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sadar itu gempa, Rita sigap memboyong anaknya ke luar ruangan. Sambil melantangkan takbir, dia mendekap erat anaknya yang masih terpasang
infus di lengan kanan. Langkah seribu Rita diiringi puluhan genting yang jatuh menghunjam lantai.

"Saya gendong anak sambil berlari menyelamatkan diri. Infus dan selang yang terpasang terjatuh. Terpaksa infusannya saya seret," katanya.

"Saat keluar pintu, genting satu persatu berjatuhan. Saya terus berlari ke halaman puskesmas," tambah Rita.

Prak! Sebuah genteng menghantam punggung Rita. Beruntung, keduanya tak mengalami luka serius. Perempuan berjilbab itupun bersujud syukur.

"Kalau saya dan anak tidak buru-buru keluar, maka sudah ketiban genting-genting itu," tunjuknya ke arah Puskemas Pangalengan yang sebagian bangunan dan temboknya ambruk berantakan.

Rita berkisah, sebelum gempa bergetar dahsyat, anak pertamanya itu sedang dirawat karena sakit diare. Ia tak menyangka, bencana alam itu begitu terasa di depan mata sang anak.

Ketika wawancara, dirinya tak bisa melepas Bebia di pangkuan. Setiap usai menjawab pertanyaan, Rita selalu mengakhiri ucapan dengan rasa syukur kepada sang pencipta. Dia menyadari berhasil lolos dari maut
bersama buah hatinya.

Bebia kembali meringis. Matanya memejam menahan sakit. "Alhamdulillah, masih bisa selamat nak. Syukur, alhamdulillah," ujar warga Desa Pangalengan ini sambil berurai air mata.

(bbp/ema)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads