"Sebetulnya yang tahu kejadian hari itu kan pihak sekolah, seharusnya pihak sekolah selaku manajer bisa menindak langsung tanpa harus ke Dinas Pendidikan dulu," kata Oji kepada detikbandung saat dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat (28/8/2009).
Oji juga mengatakan dirinya telah menerima surat tentang kronologis kejadian dari Rosnida melalui Kepala Sekolah. "Menurut surat yang saya dapat, kejadian itu tidak ada unsur kesengajaan. Pada saat memegang korek itu ada yang menyenggol tangan dia, jadi korek tersebut mantul ke muka muridnya," tutur Oji.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oji juga mengaku belum bisa melaporkan secara resmi kepada wakil wali Kota karena harus menunggu kejelasan masalahnya terlebih dahulu. "Kalau laporan kronologis lisan ya sudah, sekedar menanyakan bagaimana kejadiannya, tapi kalau untuk laporan resmi belum, nanti setelah saya bertemu dengan pihak sekolah dan guru tersebut," ujarnya.
Selasa (25/8/2009) sekitar pukul 08.00 WIB, Rosnida mengajar di kelas 9 C. Saat itu Rosnida menerangkan mengenai api dunia yang tak seberapa jika dibandingkan dengan panasnya api neraka.
Untuk meyakinkan para muridnya, dia mulai menyalakan batang korek api dan mendekatkan ke tangan para murid agar mereka bisa merasakan panasnya. Seluruh murid perempuan mengalaminya, sementara murid laki-laki hanya sebagian. Alasannya, perempuan lebih banyak masuk ke neraka dibandingkan laki-laki.
Praktik yang nyeleneh itu membawa korban. Tantri Agustriani (14) mengalami luka bakar sundutan korek api saat Rosnida mempraktikannya kepada gadis kecil itu.
(avi/ern)











































